Selasa, 19 Oktober 2010

Faktor Usaha Manusia Meraih Hasil Tujuan

Faktor Usaha Manusia Meraih Hasil Tujuan

ASPEK KEMANUSIAAN DALAM MERAIH HASIL

Aspek kemanusiaan dalam mencapai hasil suatu usaha ditentukan oleh akal dan kehendak (irâdah). Fungsi akal adalah menetapkan sesuatu berdasarkan pemikiran sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu. Irâdah (kehendak) adalah kebulatan tekad terhadap kelangsungan suatu aktivitas, bagaimanapun berat dan melelahkan, disertai dengan keteguhan dan konsistensi di dalamnya.

  1. Beberapa Perkara Rasional untuk Mewujudkan Buah Amal

Beberapa perkara bersifat rasional yang wajib dipenuhi untuk mewujudkan keberhasilan dalam usaha antara lain adalah:

  1. Menentukan target.

Artinya, membatasi target atau buah amal yang diharapkan secara jelas dan rinci. Secara alami, setiap target berbeda-beda tingkat kemudahan dan kesulitannya. Membangun rumah, misalnya, jauh lebih mudah dibandingkan dengan membangun masyarakat. Setiap target, baik mudah ataupun sulit, harus dibatasi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai menjalankan aktivitas, apa pun bentuknya. Ketidakjelasan dan ketidaksempurnaan target atau kesamaran tujuan, meskipun sedikit, akan melahirkan kebingungan dan keraguan dalam jiwa; selain akan menyebabkan putusnya cita-cita, lemahnya semangat dan motivasi, dan munculnya rasa putus asa; yang selanjutnya dapat berujung pada kegagalan total dan tidak terwujudnya tujuan.

Penentuan target yang terfokus, jelas, dan tidak mengandung kekeliruan akan melahirkan tekad yang kuat dalam jiwa, sikap konsisten, dan keteguhan; akan dapat memperkuat cita-cita dan semangat; akan mampu meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan sikap optimis; serta akan bisa mengantarkan manusia pada keberhasilan yang sempurna dan tercapainya tujuan.

Demikianlah, ada perbedaan yang sangat jelas antara orang yang berjalan tanpa tujuan tertentu dan samar dengan orang yang memiliki tujuan tertentu, jelas, dan terfokus. Perbedaan di antara keduanya seperti orang yang berjalan dalam kegelapan dengan yang berjalan dalam keadaan terang; seperti orang yang berjalan dalam keadaan buta dengan orang yang berjalan sambil melihat; atau seperti orang yang berjalan di padang pasir tanpa arah/petunjuk yang jelas dengan orang yang berjalan di atas rel kereta api.

  1. Mengetahui sebab-sebab yang dapat mengantarkan pada tercapainya tujuan.

Maknanya adalah mengetahui seluruh sebab-sebab yang bisa mengantarkan pada tercapainya tujuan; baik yang bersifat kemanusiaan, yang bersifat material (harta), maupun yang lain.

Sudah kita kemukakan sebelumnya, bahwa sebab adalah sesuatu yang akan mengantarkan pada sesuatu yang lain. Jika tujuan berbeda, maka sebab-sebab yang bisa mengantarkan pada tercapainya tujuan juga berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kemudahan dan kesulitannya; demikian pula jenis, tingkat kesulitan, dan upaya yang harus dikerahkan untuk memenuhi sebab-sebab tersebut. Misalnya, apa yang diperlukan untuk menulis selebaran (nasyrah) berbeda dengan yang diperlukan untuk menulis undang-undang negara. Apa yang dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit mata berbeda dengan yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit kanker. Apa yang dibutuhkan untuk bisa naik ke atap rumah berbeda dengan yang dibutuhkan untuk mendarat di Kutub Selatan. Apa yang dibutuhkan untuk membangun tenda berbeda dengan yang dibutuhkan untuk membangun gedung pencakar langit. Apa yang dibutuhkan untuk membangun kepribadian Islam berbeda dengan yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat atau membangun Daulah Islamiyah. Demikian seterusnya.

Target-target yang ingin dicapai dalam kehidupan kita sehari-hari itu ada yang mudah serta bisa dicapai dengan kesulitan dan kekuatan. Begitu pula sebab-sebab yang diperlukannya, ada yang dapat dijalani dengan mudah serta gampang diketahui dan dibatasi.

Sementara itu, target-target yang lain bisa sangat sulit. Usaha untuk mencapainya pun membutuhkan kekuatan yang sangat besar dan luar biasa. Manusia kadang-kadang menghabiskan usianya; mengerahkan seluruh fasilitas yang dimilikinya, baik akal, badan, maupun harta; tetapi kemudian ajalnya datang sebelum tujuannya tercapai. Mereka pun kadang-kadang membutuhkan kekuatan seluruh generasi yang akan datang satu demi satu; memerlukan aktivitas yang terus-menerus, sulit, dan berat, dengan melibatkan kehendak serta kemauan yang keras. Lebih dari itu, mereka acapkali malah sangat sulit untuk mengetahui dan membatasi seluruh sebab-sebabnya, karena bagi orang yang memandang dari kejauhan, target tersebut seakan-akan sangat jauh dan sulit untuk diraih, bahkan tampak mustahil untuk diwujudkan.

Oleh karena itu, setelah menentukan dan memfokuskan target tersebut, yang pertama kali diusahakan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan-tujuan besar dalam kehidupan ini, seperti para pemimpin dan para pemikir, adalah mengetahui sebab-sebab yang akan mengantarkannya pada target tersebut secara pasti. Kejeniusan mereka tampak dalam penguasaan dan pengetahuan yang rinci terhadap seluruh sebab yang bisa mengantarkan pada target-target tadi, meskipun sangat sulit. Sebab, meremehkan sesuatu yang sederhana yang bisa menyempurnakan seluruh sebab untuk meraih tujuan, akan mengakibatkan kegagalan total dan menyia-nyiakan seluruh kekuatan. Dengan demikian, agar target itu bisa dicapai secara sempurna, kita harus mengetahui seluruh sebabnya.

  1. Mengaitkan sebab dengan akibat secara benar.

Setelah ada kejelasan dan penentuan target, seluruh sebab yang bisa mewujudkannya pun telah diketahui, maka seorang pemikir atau pemimpin akan berusaha mengaitkan sebab-sebab tersebut dengan targetnya atau mengaitkan sebab dan akibatnya dengan benar. Untuk menjamin suatu keberhasilan tidak cukup hanya dengan mengaitkan sebab dengan akibatnya saja. Lebih dari itu, pengaitan tersebut harus benar, sehingga target bisa dicapai dalam waktu singkat, tanpa menyia-nyiakan kekuatan yang dikerahkan. Seorang pelajar, misalnya, agar memperoleh nilai yang sempurna pada saat ujian, harus mempelajari seluruh materi pelajaran disertai dengan pemahaman dan pemikiran yang sempurna. Apabila ia tidak mempelajari seluruh materi pelajaran, berarti ia tidak mengambil dan menjalani sebab-sebabnya dengan sempurna. Mungkin ia berhasil dalam sebagian ujian karena hanya menjalani sebagian saja dari sebab-sebab keberhasilan. Jika ia mempelajarinya tanpa pemahaman dan pemikiran yang sempurna, berarti ia tidak mengaitkan sebab (yaitu mempelajari materi pelajaran) dengan akibatnya (yaitu keberhasilan). Pada saat itu, target tidak akan terwujud, karena pengaitannya tidak benar. Termasuk tindakan yang sia-sia jika seorang pelajar ingin memperoleh nilai ujian yang sempurna, tetapi ia tidak mengaitkan akibat, yakni keberhasilan, dengan sebab-sebabnya secara benar, yaitu mempelajari seluruh materi pelajaran dan memahaminya dengan sempurna.

Contoh lain adalah peperangan. Dalam peperangan, kita tidak cukup mengetahui bahwa sebab kemenangan adalah mempersiapkan kekuatan dengan hanya mengumpulkan senjata saja. Lebih dari itu, kita juga harus mengetahui strategi perang mutakhir dengan tingkat yang paling tinggi; juga mengetahui penentuan langkah-langkah penyerangan militer dan langkah-langkah dalam mempertahankan diri. Di samping itu, kita juga harus mengetahui informasi tentang musuh sekaligus titik-titik kelemahannya; harus menjaga seluruh benteng pertahanan yang mungkin ditembus musuh; serta harus mendorong semangat perang para pasukan dan memotivasinya untuk syahid di jalan Allah. Semua itu termasuk upaya mengaitkan persiapan (sebab) dengan kemenangan (akibat) secara benar.

Contoh lain lagi adalah dalam hal kekuasaan. Sebab keberhasilan dalam mengambil-alih pemerintahan adalah adanya akses menuju kekuasaan. Pengaitan yang benar antara akses menuju kekuasaan dengan mengambil-alih pemerintahan menuntut adanya pengetahuan tentang seluruh potensi kekuasaan secara rinci dan deskriptif serta pengetahuan tentang orang-orang yang memiliki pengaruh potensial satu-persatu. Apabila kekuasaan secara potensial ada pada satu kabilah, misalnya, maka kita harus meraih loyalitas kabilah tersebut agar bisa sampai pada pemerintahan. Meraih loyalitas mereka menuntut keharusan untuk meraih loyalitas pemimpinnya atau para pelaksana kekuasaan pada kabilah tersebut. Apabila kekuasaan secara potensial ada di kalangan militer, maka kita harus meraih seluruh struktur yang ada di dalamnya, yang secara potensial dapat mengakses kekuasaan. Meraih bagian-bagian tersebut tentu saja harus melalui rekrutmen para pemimpinnya. Kelalaian dalam merekrut seluruh struktur atau ada satu bagian saja yang disepelekan dalam meraih loyalitas, berarti pengaitan itu tidak dipandang benar. Satu perkara ini saja cukup untuk bisa menghasilkan kegagalan total, bahkan kadangkala mengakibatkan bencana yang menghancurkan.

Dengan demikian, pengaitan yang benar antara sebab dan akibat merupakan keharusan agar menjamin terwujudnya tujuan.

  1. Memperhatikan hukum alam dan aturan kehidupan.

Orang yang berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuannya harus mengaitkan sebab dengan akibatnya. Tidak boleh hilang dari benaknya kesadaran bahwa usahanya tersebut harus selalu sesuai dan sejalan dengan hukum alam dan aturan kehidupan. Artinya, usahanya harus selaras dengan tolok ukur-tolok ukur fisik yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta alam, manusia, dan kehidupan. Apabila manusia keluar dari tolok ukur yang bersifat fisik ini, ia tidak mungkin, bahkan mustahil, bisa mewujudkan tujuan-tujuannya; bagaimanapun pengaitan sebab dan akibat itu dilakukan serta kekuatan-kekuatannya sebagai manusia yang berakal dikerahkan.

Sebagai contoh, sebab kematian adalah datangnya ajal. Datangnya ajal adalah dari Allah, Zat Yang berada di balik alam ini. Tidak mungkin manusia bisa menghidupkan orang yang sudah mati, bagaimanapun kerasnya upaya yang dikerahkannya. Mewujudkan tujuan semacam ini adalah usaha yang sia-sia. Begitu juga halnya dengan orang yang mencari pertolongan atau kemenangan di medan perang, dia wajib mempersiapkan segenap kekuatan, bukan malah membaca kitab Shahîh al-Bukhârî sebagai perlindungan. Sebab, peperangan adalah pertarungan antar kekuatan fisik, bukan antar kekuatan pemikiran. Orang yang ingin menuntut ilmu tidak boleh mencari ilmu melalui usaha mencari harta. Orang yang ingin menjadi seorang faqîh tidak boleh mencari ke-faqîh-an dengan mempelajari ilmu tentang molekul. Orang yang ingin sembuh luka-luka di perutnya tidak bisa sembuh dengan hanya membaca surat al-Fatihah saja, tetapi ia harus menjalani proses pengobatan luka melalui seorang spesialis.

  1. Kehendak dan Kemauan untuk Mewujudkan Keberhasilan dalam Beraktivitas

Empat perkara yang telah dipaparkan sebelumnya adalah perkara-perkara yang bersifat rasional (aqlî) dalam upaya menjalankan aktivitas dan merealisasikan tujuan. Sementara itu, yang berhubungan dengan kehendak (irâdah) hanya terbatas pada tiga perkara:

  1. Kehendak yang sempurna, konsisten, dan kontinu.

Kita sudah menyebutkan bahwa irâdah adalah tekad bulat untuk melakukan suatu aktivitas. Dalam diri setiap manusia, tekad ada yang kuat dan ada yang lemah. Bahkan, tekad bisa berubah-ubah pada diri seseorang dari waktu ke waktu.

Tekad bulat yang dimiliki para pengemban dakwah dalam aktivitasnya untuk menegakkan Khilafah, misalnya, berbeda-beda satu sama lain. Tekad bulat seseorang di antara mereka pada saat permulaan mengemban dakwah berbeda dengan setelah menjalankan dakwah bertahun-tahun.

Begitu pula tekad bulat yang dimiliki seseorang untuk menjalankan suatu aktivitas, kekuatan dan kelemahannya berbeda-beda bergantung pada mudah atau sulitnya aktivitas yang akan dilakukan. Aktivitas yang mudah hanya membutuhkan irâdah yang sederhana; aktivitas yang lebih sulit memerlukan irâdah yang lebih kuat; sementara aktivitas di luar kebiasaan membutuhkan tekad bulat yang amat kuat seperti baja, tidak seperti biasanya. Begitu seterusnya.

Faktor yang mempengaruhi kekuatan dan kelemahan serta keteguhan dan kontinuitas irâdah pada diri manusia adalah kekuatan yang dimiliki manusia, baik kekuatan materi, kekuatan maknawi, ataupun kekuatan ruhani. Contohnya adalah kekuatan ruhani yang dimiliki oleh mujahid fî sabîlillâh ketika ia meyakini bahwa tempat kembalinya adalah surga yang sederajat dengan surga tempat shiddiqîn dan para syuhada. Sebaliknya, ia takut akan memperoleh kekekalan dalam neraka Jahanam seandainya lari dari medan perang. Semua itu akan menjadikan irâdah-nya lebih kuat daripada baja dan lebih tangguh daripada gunung yang tinggi.

Faktor yang menghasilkan kekuatan yang dapat mempengaruhi irâdah pada diri manusia adalah pemahamannya tentang kehidupan. Seorang kapitalis-sekular, misalnya, ketika melihat ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan materi, kekuatan maknawinya akan bertambah sehingga ia akan berusaha dengan dorongan motivasi dan irâdah yang kuat. Seorang sosialis, pada saat menyadari tentang aturan materi dan alam, ia akan terdorong, dengan irâdah-nya yang kuat, untuk melakukan perubahan masyarakat. Demikian pula dengan seorang Muslim yang meyakini bahwa ajal dan rezeki ada di tangan Allah, yang senantiasa bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan yang memahami dengan jelas persoalan qadhâ dan qadar. Dengan semua itu, ia akan menghasilkan pada dirinya irâdah yang kuat bagaikan besi-baja untuk mewujudkan perkara-perkara yang besar.

Berdasarkan penjelasan ini, kita akan menemukan perbedaan besar antara irâdah yang dimiliki oleh seorang Muslim pengemban dakwah dengan irâdah yang dimiliki oleh para penganut ideologi kapitalis dan sosialis ataupun dengan manusia yang tidak berideologi. Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan perbedaan kekuatan --baik kekuatan ruhiah, maknawi, maupun materi-- yang mempengaruhi diri mereka masing-masing. Adanya perbedaan tersebut juga dapat dilihat dengan memperhatikan perbedaan pemahaman yang bisa mendorong dan memperkuat irâdah mereka. Dari sini, tampak bahwa irâdah (tekad bulat untuk melakukan suatu aktivitas) berikut konsistensi, kontinuitas, dan keserasiannya dengan jenis aktivitas yang kuat maupun yang lemah, haruslah ada untuk menjalankan suatu aktivitas dan meraih tujuannya.

  1. Adanya perasaan butuh terhadap suatu aktivitas.

Kita bisa memperhatikan bagaimana pentingnya peranan perasaan dalam menjalankan suatu aktivitas dalam kehidupan ini. Kita bisa memperhatikan bahwa orang yang tidak merasakan adanya kezaliman, misalnya, tidak akan memiliki irâdah untuk mengubah kezaliman itu. Seorang Muslim yang tidak merasakan adanya hukum kufur dan kezaliman yang diakibatkannya serta tidak menyadari segala tipudaya dan konspirasinya, juga tidak akan memiliki irâdah untuk mengubah keadaan tersebut dengan melakukan aktivitas untuk mewujudkan Khilafah.

Kita pun bisa memperhatikan bahwa manusia yang pernah merasakan pahitnya kegagalan akan memiliki irâdah yang berbeda dengan orang yang tidak pernah mencoba melakukan suatu aktivitas. Dengan demikian, irâdah lahir dari perasaan (ed: pengalaman/ kesadaran). Artinya, tanpa adanya perasaan, tidak akan lahir irâdah. Rasa lapar akan melahirkan irâdah untuk mendapatkan benda-benda yang bisa menghilangkan rasa lapar. Perasaan terhadap zalimnya kekufuran juga akan melahirkan irâdah untuk membebaskan diri dari kezaliman tersebut.

Hanya saja, untuk menjamin kebenaran hasil dari suatu aktivitas dan terwujudnya tujuan yang dicari, maka perasaan harus disertai dengan pemikiran. Dalam hal ini, pemikiran akan memperkuat perasaan yang ada dalam jiwa sehingga menjadi perasaan yang peka. Pemikiran inilah yang akan mengontrol dan menjadikan perasaan itu memiliki pengaruh. Apabila manusia menjalankan suatu aktivitas yang dipicu oleh perasaan semata, tanpa disertai pemikiran, maka tidak mungkin sampai pada hasil yang dituju. Lebih dari itu, perilaku demikian dapat menurunkan derajat manusia ke tingkat hewani karena meninggalkan dan mengabaikan kekuatan akal-pikiran. Walhasil, perasaan akan melahirkan irâdah, dan pemikiran dapat menjadikan perasaan itu menjadi perasaan yang benar dan berpengaruh.

  1. Adanya keseimbangan antara dorongan dan cita-cita pada diri manusia dengan kemampuan dan fasilitas yang dimilikinya.

Secara alami, manusia memiliki dorongan dan hasrat. Ia juga memiliki kemampuan dan fasilitas untuk dapat mengantarkan dirinya pada keinginan dan cita-citanya. Agar kaidah untuk mewujudkan tujuan itu tetap benar, maka kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia tidak boleh melebihi dorongan dan cita-citanya, meskipun hanya sedikit. Keseimbangan antara keduanya harus selalu dijaga. Cita-cita yang besar dengan kemampuan yang terbatas dapat melahirkan keputusasaan. Sebaliknya, cita-cita yang rendah dengan kemampuan yang besar untuk merealisasikan kadang-kadang dapat melahirkan kecerobohan. Agar tidak terjadi keputusasaan dan kecerobohan, harus ada keseimbangan antara dorongan dan cita-cita di satu sisi, dengan kemampuan dan fasilitas di sisi lain. Orang yang memiliki keinginan untuk menjadi imam di masjid tidak membutuhkan kemampuan lebih selain dari menghafal surat al-Fatihah. Akan tetapi, orang yang memiliki cita-cita dan keinginan untuk menjadi imam kaum Muslim di seluruh dunia harus memiliki kemampuan dan sarana-sarana pendukung yang sesuai dengan cita-citanya itu; minimal dia harus seorang yang faqîh dan ahli politik. Termasuk kecerobohan apabila seorang pengemban dakwah ingin menjadi pemimpin politik tanpa memiliki kesadaran terhadap peristiwa-peristiwa politik atau tidak memantau dan memahami berbagai fenomena politik.

Dengan demikian, keseimbangan antara kemampuan dengan dorongan dan cita-cita serta upaya merealisasikan keseimbangan tersebut merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda