Selasa, 19 Oktober 2010

Ketidaksesuaian Harapan Usaha Dengan Hasil

Ketidaksesuaian Harapan Usaha Dengan Hasil

RAHASIA DI BALIK KELUARNYA MANUSIA DARI LINGKARAN KAIDAH KAUSALITAS
Benar, setiap manusia selalu berusaha secara terus-menerus. Sengaja atau tidak, ia akan mengaitkan sebab dengan akibat untuk mewujudkan tujuan-tujuannya dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Adanya pengaitan tersebut telah menjadi bagian dari tabiat manusia dan merupakan bagian dari aturan kehidupan yang bisa dirasakan setiap hari. Sebab, manusia mengetahui dengan yakin bahwa tanpa adanya pengaitan tersebut --mustahil-- baginya bisa mewujudkan tujuan, apapun bentuknya. Orang yang ingin membangun rumah, sesederhana apa pun, mesti memenuhi sarana-sarana yang harus ada untuk merealisasikan pembangunannya, yaitu meliputi harta dan tenaga ahli bangunan. Orang yang ingin mencetak buku, ia harus memenuhi seluruh sarana yang berkaitan dengan bidang percetakan, baik berupa bahan dan alat, sumberdaya manusia, seni/ keahlian, dan lain-lain. Bahkan jika kita memperhatikan, anak kecil pun, yang ingin meraih kebutuhan-kebutuhannya, secara alami akan menjalani qâ’idah sababiyyah. Dia akan mengambil uang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara membelinya di toko. Benar, bahwa fenomena seperti itu bisa dipraktekkan manusia berkali-kali dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam skala kecil maupun besar. Benar pula, bahwa pelaksanaan suatu aktivits apapun, selama syarat-syaratnya terjangkau, akan mampu dijalankan.

Hanya saja, manusia kadang kadangkala menghadapi kegagalan dalam mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Kegagalan tersebut kadangkala mengakibatkan keputusasaan yang membuatnya tidak melakukan aktivitas apa pun. Oleh karena itu, agar manusia tidak sia-sia dalam menghadapi kesulitan hidup ketika berusaha mencapai tujuan-tujuan yang amat berat; agar ia dalam usahanya lebih dekat dengan keberhasilan daripada kegagalan; atau agar ia bisa menggapai keberhasilan setelah mengalami kegagalan serta tidak putus-asa dan lemah semangat untuk beraktivitas atau melanjutkan kembali aktivitasnya, maka ia harus mengetahui jalan-jalan menuju keberhasilan. Dalam hal ini, sababiyyah adalah kaidah untuk melangsungkan aktivitas dan meraih tujuannya. Di samping itu, ia harus berusaha secara terus-menerus mewujudkan tujuannya dengan segenap usahanya. Manusia, meskipun yakin bahwa akibat tidak akan terwujud kecuali setelah dijalani sebab-sebabnya, kadangkala ceroboh dalam mengaitkan sebab dengan akibatnya. Ia, misalnya, tidak memperhitungkan seluruh sebab, atau tidak mendeskripsikan dan memfokuskan tujuannya, padahal ia mampu.

Andaikan kita menghitung sebab tersembunyi yang menjadi pemicu keluarnya manusia dari lingkaran qâ’idah sababiyyah, kita akan menemukan banyak sekali jenisnya. Ada yang cakupannya umum meliputi seluruh manusia. Ada pula yang khusus bagi umat Islam saja. Sebab-sebab yang cakupannya umum di antaranya ada yang diperoleh manusia tanpa ada usaha sehingga ia bisa mewujudkan sebagian dari tujuan-tujuannya. Contohnya, ketika seseorang mendapat kekayaan karena memperoleh harta waris atau ia mendapat kemenangan karena kelemahan musuh akibat sakit. Ada pula sesuatu yang dihadapi manusia berupa situasi atau keadaan yang dipengaruhi qadhâ’ sehingga menghalangi dirinya dalam mewujudkan tujuannya, padahal dia telah berusaha semaksimal mungkin. Misalnya, sakit yang menimpa pelajar tepat pada malam ujian atau terjadinya krisis secara tiba-tiba yang menimpa pasar karena buruknya kondisi perekonomian negara. Kondisi-kondisi seperti ini memberi pengaruh negatif dalam kehidupan manusia pada saat berusaha menjalani as-sababiyyah; kadangkala melahirkan sikap fatalistis (berserah diri secara total pada keadaan) yang mendorong dirinya --yang secara alami tidak suka beraktivitas, cenderung menyukai aktivitas yang ringan, atau tidak mengerahkan segenap daya upaya-- bersikap ceroboh dalam menjalani as-sababiyyah. Pada akhirnya, kondisi-kondisi semacam ini dapat melemahkan dorongan pada diri manusia, melahirkan sikap minimalis dalam usaha, dan mengakibatkan manusia menjadi tidak produktif.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan kaum Muslim, sesungguhnya realitasnya yang terjadi pada masa-masa kemunduran umat Islam --berupa kesalahan dalam memahami makna tawakal dan kerancuannya dalam memaknai pemahaman as-sababiyyah-- merupakan akibat dari kekeliruan mereka dalam memahami potongan hadits Rasulullah saw yang berbunyi demikian:

Ikatlah (untamu) dan bertawakallah kepada Allah.

Mereka juga telah keliru dalam memahami masalah takdir, catatan di Lauhul Mahfudz, dan ilmu Allah; bercampur-baur dengan pemahaman tentang as-sababiyyah. Mereka pun keliru dalam memahami makna qadhâ dan qadar yang kemudian berimplikasi pada meluasnya pemahaman tentang qadriyyah ghaibiyyah sebagai turunan dari masalah qadhâ dan qadar. Semua itu mengakibatkan mereka menyepelekan aspek as-sababiyyah yang pada akhirnya memunculkan sikap fatalistis pada diri mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda