Rabu, 23 Juni 2010

Gaya Dinamis Bahasa al-Qur'an – Kedinamisan Bahasa al-Qur'an

Gaya Dinamis Bahasa al-Qur'an – Kedinamisan Bahasa al-Qur'an




Gaya Dinamis Bahasa al-Qur'an – Kedinamisan Bahasa al-Qur'an


Gaya dinamis ekspresi al-Qur'an terjadi sebagai hasil dari penggunaan perpindahan gramatikal. Ini adalah praktek retorika terakui yang telah diberi istilah “Sifat berani Bahasa Arab” - “Daring nature of Arabic”. Alat retorika ini disebut 'iltifat, dalam Bahasa Inggris secara literal berarti 'turning' – 'beralih' dari satu hal ke hal lain.


Para orientalis di masa lalu seperti dinyatakan oleh Noldeke bahwa beberapa perubahan dalam pihak dan jumlah itu terjadi secara tiba-tiba. Miskonsepsi ini telah ditunjukkan sebagai pemahaman permukaan Bahasa Arab Klasik. Perubahan-perubahan yang dibuat dalam ekspresi al-Qur'an adalah dibuat menurut satu pola efektif. Para ulama Arab masa lalu, seperti Suyuti, al-Zarkhasi dan al-Ithir, secara keseluruhan setuju bahwa penggunaan Bahasa Arab ini adalah bagian dari ilmu pengetahuan retorika. Selain itu, mereka menyatakan bahwa bukannya menjadi sifat aneh dari Bahasa Arab, itu adalah alat retorika efektif.


Al-Qur'an adalah bentuk satu-satunya prosa Arab yang telah menggunakan alat retorika ini secara ekstensif dan kompleks. Haleem menyatakan:


...al-Qur'an memberdayakan fitur ini secara jauh lebih ekstensif dan dalam lebih banyak variasi daripada puisi Arab. Hal ini adalah, oleh karenanya, wajar untuk ditemukan... tidak ada yang tampak mengutip berbagai referensi dalam prosa selain dari al-Qur'an”


Salah satu contoh fitur retorika kompleks ini ada di dalam ayat berikut ini di mana ia berpindah dari berbicara mengenai Tuhan, dari sudut pihak ketiga, kepada Tuhan sendiri berbicara dari sudut pihak pertama dengan plural penghormatan:


"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." [Terjemah Makna Qur'an Surat (4) an-Nisa: 114]


Daripada mengatakan “Dia akan memberi kepadanya...“ Tuhan dalam contoh ini berbicara dalam plural penghormatan (Kami) untuk memberikan jaminan secara langsung atas pahala untuk mereka yang melakukan aksi-aksi positif yang disebutkan ayat di atas.


Contoh lain perubahan tiba-tiba dalam pihak dan jumlah ini terdapat di dalam ayat-ayat berikut ini:


"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur"
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Terjemah Makna Qur'an Surat (10) Yunus: 22-23]


Neal Robinson dalam bukunya “Menemukan al-Qur'an: Pendekatan Kontemporer terhadap Teks Tertabir” - "Discovering the Qur'an: A Contemporary Approach to a Veiled Text" menjelaskan ayat ini dalam hal retorikanya:


Pada pandangan pertama itu mungkin tampak sangat kacau, tapi ketiga perpindahan pronomial itu adalah sepenuhnya logis. Perpindahan dari sudut orang kedua plural ke sudut orang ketiga plural meng-objek-kan orang yang diberitahu dan memungkinkan mereka melihat diri mereka sendiri sebagaimana Tuhan melihat mereka, dan untuk mengenali betapa idiot dan hipokrit perilaku mereka itu. Perpindahan kembali ke sudut orang kedua plural menandai kembalinya Tuhan untuk memperingatkan mereka. Akhirnya perpindahan pembicara dari sudut orang ketiga tunggal ke sudut orang pertama plural mengekspresikan Keagungan dan kekuatan, yang merupakan hal yang pantas dalam konteks penunjukkan pada kebangkitan kembali dan pengadilan.”


Gaya dinamis al-Qur'an adalah fitur bergaya yang jelas dan merupakan praktek retorika yang diakui. Al-Qur'an menggunakan fitur ini sedemikian rupa sehingga bersesuai dengan tema teks sembari memperkuat dampak pesan yang dibawakannya. Cara kompleks al-Qur'an dalam menggunakan fitur ini memberikan teks ekspresif yang dinamis, yang dahulunya tidak dikenal oleh para ahli Arab jaman dulu. Tidaklah mengherankan bahwa Neal Robinson menyimpulkan bahwa perpindahan gramatikal yang digunakan di dalam al-Qur'an:


"…adalah alat retorika yang sangat efektif."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda