Minggu, 13 Juni 2010

Cita-Cita Besar Mereka Orang yang Tsiqah - Masalah Perkara Tujuan Besar Anda

Cita-Cita Besar Mereka Orang yang Tsiqah - Masalah Perkara Tujuan Besar Anda

FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

H. Tujuan yang Rendah

Sesungguhnya kebesaran seseorang terkait dengan kebesaran tujuannya. Seberapa besar tujuan seseorang maka itu menunjukkan luasnya pikiran dan cintanya terhadap perkara-perkara mulia. Apabila Anda melihat orang memiliki tujuan rendah dan sederhana maka ketahuilah ia telah sesat dari manhaj yang benar dan tertutup oleh perdaya iblis. Kami memohon keselamatan kepada Allah.

Orang yang mengamati sejumlah tsiqah pada hari ini akan merasa heran dengan rendahnya tujuan dan kurangnya perhatian mereka terhadap perkara-perkara besar. Ada banyak contoh, tetapi saya hanya mengajukan 1 contoh untuk menjelaskan pendapat saya. Yaitu masalah pola makan atau yang disebut diet. Masalah ini menyita waktu banyak tsiqah. Sebagian dari mereka membuat perencanaan dalam masalah ini dan melaksanakannya. Bahkan mereka bertanya dan minta nasihat kepada yang lain. Herannya, mereka mengikuti berita-berita tentang pola makan ini, dan menyimak lembar demi lembar koran dan majalah. Perhatian mereka terhadap masalah di atas tidak sama ketika mereka memperhatikan masalah penting di antara masalah-masalah dunia dan akhirat. Anda bisa melihat mereka mengadakan perkumpulan untuk membincangkan masalah zat gula pada buah-buahan, gizi pada daging, dan lemak pada berbagai jenis minuman.

Diet ini telah menguasai hidup mereka. Seandainya mereka mengikuti Sunnah Nabi dalam masalah makanan, pastilah menjadi amal ibadah bagi mereka. Namun mereka meninggalkan Sunnah itu, dan menghukum diri sendiri. Seseorang di antara mereka mempunyai kesabaran secara mengagumkan atas diet ini, dan sebaliknya ia tidak bisa bersabar 1/10-nya dari kesabaran itu demi keutamaan-keutamaan yang mengangkatnya ke derajat surga yang tinggi.

Herannya, untuk mewujudkan tuntutan diet ini mereka tidak menolak suguhan ketika bertamu. Bahkan sebagian dari mereka mencela tuan rumah karena tidak memberikan perhatian yang pantas. Bahkan sebagian dari mereka tidak berbuka puasa dengan kurma karena kurma mengandung banyak zat gula. Yang paling aneh lagi, sebagian dari mereka menolak minum air zam-zam dengan alasan Zamzam adalah makanan yang mengenyangkan. 122 Dan itu berarti melanggar program dietnya. Salah seorang dari mereka menolak air yang diberkahi ini dan meminum selainnya. Apakah Anda pernah melihat orang yang lebih mengherankan dan bodoh dari orang ini?

122) Sepenggal hadits shahih yang diriwayatkan Imam Ahmad, pertamanya adalah: “Sesungguhnya Zamzam itu diberkahi dan sesungguhnya Zam-Zam itu makanan yang mengenyangkan.” Baca al-Fathur-Rabbani: 23/248

Sesungguhnya Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam menyukai madu dan manisan, 123 makan daging, menerima apa yang disuguhkan padanya, kecuali yang dilarang. Sedangkan mereka tidak mau makan makanan yang diberkahi dengan alasan diet.

123) Sepenggal hadits yang diriwayatkan Imam Enam. Sebagai misal, baca Shahih Bukhari, kitab ath-Thalaq, bab Lima Tuharrimu ma Ahallallah.

Saya tidak mengira setan telah mengatur orang-orang seperti mereka sedemikian rupa, dan telah menjerat mereka sehingga meninggalkan perkara-perkara mulia demi perkara-perkara sepele.

Seandainya mereka menerima ajaran diet ini dalam batas tertentu, dan mengutamakan perkara dunia dan akhirat mereka yang penting, pastilah mereka punya alasan atas perbuatan mereka ini. Namun karena mereka menjadikan perhatian terbesar dalam hidup adalah masalah diet maka itu berarti kerugian besar. Kami mohon ampun kepada Allah.

Seandainya saya mampu membeberkan pemikiran mereka dan bagaimana mereka berperilaku, pastilah sudah saya sampaikan. Namun tujuan penjelasan ini hanya sebagai dalil atas ketidak-berdayagunaan seorang tsiqah untuk menekuni perkara-perkara mulia.

Apabila saya buat perbandingan antara tujuan mereka yang sepele dan cita-cita besar seorang tsiqah, pastilah kita lihat sebuah keajaiban. Dr. Abdurrahman as-Samith al-Kuwaiti bercita-cita dalam hidupnya untuk menyelamatkan kaum Muslimin Afrika dari kristenisasi dan berhalaisme. Cita-cita ini tidak mampu dilakukan sejumlah besar tsiqah, namun beliau meletakkan cita-cita ini sejak sekitar 20 tahun lalu, dan sampai sekarang ia terus mengusahakannya tanpa jemu. Ia telah berhasil mewujudkan cita-citanya yang tidak bisa dilampaui sejarah. Bahkan saya yakin beliau termasuk orang yang mengubah perjalanan sejarah Afrika secara sempurna, dan mempersempit ruang gereja. Beliau telah membangun banyak masjid, madrasah, rumah sakit, dan kantor berita; yang akan ditulis dengan huruf dari cahaya, insya Allah.

Perhatikan bagaimana cita-cita besar seorang tsiqah mampu menciptakan dan melakukan sesuatu yang tergolong mustahil. Sebaliknya apabila cita-citanya rendah maka ia berada di pinggir lembaran hidup, tidak dihiraukan dan tidak dirasakan bahwa ia pernah hidup sama sekali.

Ada banyak tsiqah yang mengubah perjalanan sejarah di Amerika, Eropa, Australia, dan Afrika. Mereka bekerja siang dan malam. Di kepala mereka hanya ada cita-cita besar yang mereka perjuangkan. Dan banyak tsiqah yang tidak berdayaguna melihatnya dengan tatapan dingin, bahkan sebagian dari mereka menyerang dan menghalangi cita-cita besar tersebut. La haula wa la quwwata illa billah.

Jadi, hendaknya setiap tsiqah meletakkan cita-cita besar di depan matanya, yang diperjuangkannya dengan segenap tenaga.

Lihatlah Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah yang telah berjihad melawan tentara salib. Cita-citanya lebih besar dari kemenangan-kemenangan temporal atau dari sekadar mengusir mereka dari tanah Syam. Seorang shahabatnya menceritakan bahwa ia berjalan bersama Shalahuddin al-Ayyubi dari Asqalan ke Akka. Katanya, “Pada saat itu musim hujan besar, laut bergelombang besar laksana gunung. Baru pertama kali aku melihat laut, sehingga masalahnya menjadi besar bagiku, hingga terimajinasi dalam pikiranku: seandainya aku ditawari dunia dengan syarat aku harus mengarungi laut 1 mil, pasti tidak akan kulakukan. Aku meremehkan orang yang mengarungi laut demi dinar atau dirham. Dan aku memuji pandangan orang yang tidak menerima kesaksian orang yang mengarungi lautan. Semua itu terpikir olehku – ketakutan yang amat sangat – karena melihat gulungan ombak lautan.

Pada saat aku demikian, Shalahuddin al-Ayyubi melihatku dan berkata, “Manakala Allah memudahkan penaklukan sisa wilayah pantai, maka kubagi negara itu dan kuamanatkan, lalu aku mengarungi lautan ini ke pulau-pulau mereka dan mengejar mereka, hingga aku tidak menyisakan di muka bumi orang yang kafir kepada Allah, atau aku mati.”

Ucapannya ini menyentakkan aku karena berlawanan dengan apa yang kupikirkan. Maka kukatakan kepadanya, “Di bumi ini tidak ada orang yang lebih berani jiwanya dari tuan, lebih kuat niatnya dari tuan untuk membela agama Allah.” Lalu aku ceritakan apa yang ada di benakku, “Ini tidak lain adalah niat baik, namun tuan berlayar dengan armada laut, dan tuan adalah simbol Islam yang tidak sepatutnya membahayakan diri sendiri.

Ia menjawab, “Aku meminta pendapatmu, kematian apa yang paling mulia?”

Maka kujawab, “Mati di jalan Allah.”

Lalu ia berkata, “Tujuan utamaku adalah mati dalam keadaan paling mulia.”

Lalu shahabatnya itu berkata,”Lihat, betapa sucinya hati ini, dan betapa beraninya jiwa ini.” 124

124) Mukhtasharur-Raudhatain, hlm. 383

Saudara pembaca, bagaimana pendapat Anda tentang cita-cita besar yang diletakkan Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah, dan bagaimana beliau berusaha mewujudkannya? Siapakah yang mempunyai cita-cita yang mendekati atau menyamai cita-cita Shalahuddin al-Ayyubi? Pernahkah ia lemah atau bosan untuk mewujudkan cita-citanya? Apabila besar jiwa maka tubuh menjadi lelah untuk mencapai tujuannya ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda