Jumat, 25 Juni 2010

Kutbah Jum'at Korupsi – Khutbah Tentang Korupsi

Kutbah Jum'at Korupsi – Khutbah Tentang Korupsi


Tema Korupsi Kutbah Hari Jumat


[DO'A PEMBUKA KUTBAH]


إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعود بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له و اشهد إلا اله إلا الله و حده لا شريك له و اشهد أن محمد عبده و رسوله


(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا)
"يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا"


أما بعد


[TEKS KHUTBAH PERTAMA]


Wahai kalian yang beriman, Allah telah memberitahu kita di dalam Kitab-Nya:




Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” [Terjemah Makna Qur'an Surat (3) Ali Imran: 75]


Saudara-saudaraku dalam Islam, ketika kita melihat pada apa yang telah terjadi mengenai krisis yang telah melanda arena politik di negeri ini, kita tidak perlu terkejut.


Kita tidak seharusnya kaget bahwa rakyat telah menjadi sangat tahu tentang kebohongan para politisi di sini, bahwa mereka merasa jijik dan berpaling dari apa yang disebut proses dan institusi demokratis.


Kita seharusnya tidak terkejut bahwa tidak ada yang percaya satu katapun yang diucapkan dari mulut-mulut yang mereka pilih untuk mewakili mereka, untuk mewakili kepentingan-kepentingan mereka, untuk mengurus berbagai urusan mereka, karena telah terbukti bahwa terdapat korupsi endemik dan kerakusan di antara mereka. Kita seharusnya tidak merasa terkejut terhadap terjadinya keberpalingan luas dari situasi saat ini, karena hal itu hanyalah suatu konfirmasi mengenai apa yang telah banyak diketahui semua orang, bahwa seluruh sistem di sini rusak.


Sebelumnya, kita mendengar tentang skandal 'uang fasilitas', saudara-saudaraku, di mana investigasi dilakukan setelah orang diberi keistimewaan yang dia sebelumnya membayar banyak uang untuk fasilitas itu, mengadili mereka di kapal-kapal pesiar dan istana-istana mereka.


Sebelumnya, kita mendengar tentang skandal 'uang penyelidikan', di mana telah terlihat bahwa beberapa politisi tertentu mengambil uang untuk melakukan penyelidikan di parlemen, demokrasi untuk dijual. Hal ini bukanlah suatu kejutan, karena siapapun yang mempelajari sistem Barat akan melihat bahwa sementara mereka mempromosikan politik mereka sebagai suara rakyat kenyataannya adalah dikendalikan oleh berbagai kepentingan yang mampu melobi dan mempengaruhi para politisi. Ini terbukti dengan adanya hubungan erat pemerintah dengan sektor perbankan, di mana uang para pembayar pajak digunakan untuk menghargai skema kegagalan para kolega dan rekan mereka di bank-bank.


Sebelumnya, kita melihat penyelidikan kasus suap dalam hal kontrak besar militer antara negara dan rezim negara lain, yang kemudian dibatalkan, seharusnya karena tujuan-tujuan keamanan tapi realitanya untuk melindungi berbagai kepentingan kedua rezim.


Sebelumnya, kita mendengar bahwa para pejabat menarik istri-istri mereka, anak-anak mereka, dan para selingkuhan mereka untuk dijadikan pejabat, beberapa dari mereka tidak melakukan pekerjaan apapun tapi tetap dapat gaji, semua itu untuk memaksimalkan keuntungan yang dapat mereka raup dari jabatan mereka.


Hal ini bukanlah kejutan saudara-saudaraku, karena masalahnya bukanlah para politisinya saja yang korup, atau sistem pembelanjaan di parlemen saja yang salah dan perlu diperbaiki, tapi masalahnya lebih mendasar daripada itu.


Sebagaimana Allah Swt. memberitahu kita - “dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.”


Allah telah memberi kita informasi tentang para Ahli Kitab, bahwa di antara mereka ada yang tidak bisa diberi amanah dengan sekeping uangpun karena mereka merasa bahwa mereka lebih berpangkat daripada orang-orang awam, juga daripada mereka yang buta huruf. Jika hal ini benar mengenai para Ahli Kitab, lalu bagaimana dengan “orang-orang negeri kita” sekarang ini yang menjadi para Ahli Rupiah dan Dollar?


Dan lihat bagaimana kita diberitahu bahwa satu-satunya cara kita mengambil kembali uang dari mereka – adalah dengan berhadapan dengan mereka memintanya dari mereka – bayangkan saudara-saudaraku, skandal pembelanjaan ini terungkap hanya setelah periode waktu yang lama di mana parlemen mencoba mati-matian untuk memblokir informasi dari kebocoran, di setiap langkah mereka berusaha menggunakan hukum-hukum mereka dan pengaruh mereka untuk mencegah keluarnya informasi ini dengan apa yang disebut Undang-Undang Kebebasan Informasi. Dan pada akhirnya – kasus itu terlihat setelah ada seseorang yang setuju, seseorang yang menjual CD kasus itu ke surat kabar nasional demi uang!


Mereka yang tidak percaya apapun kecuali uang, yang mereka cari dalam kehidupan ini hanyalah uang dan harta, kesuksesan bagi mereka adalah seberapa banyak kepemilikan materi yang bisa mereka kumpulkan. Mereka tidak merasakan ada pertanggung jawaban terhadap siapapun selain hawa nafsunya sendiri. Hal ini tidak hanya terjadi pada para politisi, tapi ini adalah nilai kemasyarakatan yang mereka pegang hari ini – dari pengangguran sampai bankir yang paling kaya – masing-masing berusaha meraih sebanyak-banyaknya untuk diri mereka sendiri dengan mengabaikan siapapun yang lain. Jadi para bankir tidak melakukan apapun yang ilegal, tapi mereka beraksi secara rakus dan korup berusaha memaksimalkan keuntungan mereka. Para anggota dewan secara keseluruhan tidak melakukan apapun yang ilegal menurut huruf-huruf dari hukum-hukum yang dibuat mereka sendiri, tapi telah berlaku rakus dan korup berusaha memaksimalkan keuntungan mereka. Siapa yang menderita dari kedua kasus itu? Orang biasa, orang-orang di jalanan, para pembayar pajak biasa, yang tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat dan berharap bahwa jika dia berada di posisi yang sama akan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan, karena itulah apa yang diajarkan masyarakat padanya.


Apa yang kamu harapkan dari para anggota dewan saudara-saudaraku? Apakah mereka bukan bagian dari masyarakat? Bukankah keserakahan mereka hanyalah cermin dari masyarakat dan nilai-nilainya? Tentu saja mereka akan bertindak sama sebagaimana yang lainnya di masyarakat, itu adalah sesuatu yang alami dan diharapkan. Inilah mengapa kamu akan menemukan bahwa sistem Amerika bahkan lebih rusak dan lebih korup dan lebih rakus daripada di sini, di mana menjadi seorang politisi adalah suatu pilihan karir yang akan mengantarkan pada jutaan dollar, dan mereka tidak punya malu dalam mengakuinya.


Ini bukan masalah mengenai detail aturan-aturan saudara-saudaraku tercinta, ini bukanlah perkara kecil yang bisa diperbaiki dengan menggunakan plester, sebagaimana juga sistem ekonomi gagal mereka tidak bisa diperbaiki dengan sekedar mengotak-atik aturan, dan sistem ekonomi mereka dipastikan terus mengalami keruntuhan hingga terjadi perubahan yang mendasar, hingga masyarakat memeluk nilai-nilai yang lain, dan mengganti sistem mereka dengan sistem yang benar-benar berbeda yang mencerminkan nilai-nilai itu. Tanpa itu semua, berbagai masalah mereka akan terus berlanjut.


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِہِمۡ
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Terjemah Makna Qur'an Surat (13) Ar Ra'd: 11]


[TEKS KUTBAH KEDUA]


إن الحمد لله و اشهد إلا اله إلا الله و حده لا شريك له و اشهد أن محمد عبده و رسوله


Di masa ini saudara-saudaraku, hari demi hari kita menyaksikan kegagalan sistem Barat, tidak hanya kegagalan kepemimpinan mereka atas kemanusiaan yang telah menghancurkan banyak dari dunia sebagai akibat dari kerakusan mereka, tapi juga kegagalan mereka untuk mengurus rakyat mereka sendiri.


Namun para penguasa politik kita di dunia Muslim tetap tersihir oleh politik Barat dan para politisi Barat, dan mengikuti mereka dalam segala hal tapi dalam gaya yang lebih kasar dan kumuh.


Korupsi dan ketamakan tersembunyi di sini terbuka di negeri-negeri kita.
Kezaliman atas hak-hak dan kehormatan rakyat tersembunyi di sini dan terbuka di negeri-negeri kita,
Para poitisi di sini menyembunyikan kegagalan dan ketidak-layakan mereka untuk memimpin, sementara hal ini terbuka di negeri-negeri kita.
Para politisi di sini meminta, dan para penguasa kita menaati, bahkan permintaan untuk menyakiti dan membunuhi rakyatnya sendiri.


Nabi kita, Saw. bersabda:


إنما أخاف على أمتي الأئمة المضلين
I fear for my Umma, astray leaders (who will lead them astray) (Tirmidhi)
Aku mengkhawatirkan atas Umatku, para pemimpin sesat (yang akan menyesatkan mereka) (Hadits Riwayat Tirmidzi)


Islam adalah satu-satunya solusi bagi dunia di waktu ini dan kapanpun, hanyalah nilai-nilai Islam yang menyemaikan ke dalam para pemimpinnya rasa pertanggung jawaban dan takwa, karena kepemimpinan adalah amanah dan bukan hanya kesempatan untuk keuntungan pribadi.


Dan Nabi kita berkata kepada Abu Dzar ketika dia meminta suatu posisi kepemimpinan atas rakyat:


يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا
O Abu Dhar, you are weak and authority is a trust, and on the Day of Resurrection it is a cause of humiliation and sorrow except for him who fulfills its obligations and (properly) discharges the duties thereon (Muslim)
Wahai Abu Dzar, kamu adalah lemah dan kekuasaan adalah amanah, dan di Hari Kebangkitan ia akan menjadi sebab kehinaan dan kesedihan kecuali bagi mereka yang memenuhi kewajiban-kewajibannya dan memenuhi tugas-tugas atasnya. (Hadits Riwayat Muslim)


Memerintah rakyat adalah suatu posisi dengan tanggung jawab besar dan dengan akuntabilitas besar di Hari Pengadilan, sehingga Muslim manapun yang mengambil tanggung jawab itu (harus) memahami bahwa dia tidak akan mengikuti hukum buatan, atau media, atau opini publik, tapi akan menuruti Dia yang Melihat dan Mendengar segalanya, yaitu Allah. Dan mentalitas demikian itu menghasilkan individu luar biasa,


Memerintah atas kita adalah amanah dengan Allah, bukan suatu karir untuk menguntungkan diri kita sendiri. Ketika kita melihat pada contoh para pemimpin sepanjang sejarah Islam, kamu tidak menemukan yang setara dengan negara Islam dalam hal integritas umum para penguasanya, akuntabilitas dan ketegasan mereka dalam hal kekayaan ummat yang menjadi tanggung jawab mereka.


Ketika Umar menanyakan seorang gubernurnya yang lain, Said bin Amir mengenai satu keluhan dari rakyat yang dipimpinnya “Aku menanyakan keluhan-keluhan lain apa yang ada pada mereka, mereka berkata: 'Satu hari setiap bulan, dia tidak keluar kepada kami sama sekali.” Jawabannya adalah “Amirul Mukminin, aku tidak punya pembantu, dan tidak ada pakaian selain yang kupakai. Aku mencucinya sebulan sekali, dan butuh waktu sehari penuh untuk kering sehingga aku bisa memakainya dan pergi keluar lagi.”


Ini adalah rasa bertanggung jawab, akuntabilitas, dan kehati-hatian oleh generasi-generasi awal.


Tapi ini tidak hanya terjadi pada generasi awal; kita punya banyak contoh ulama yang mengoreksi para penguasa di sepanjang jaman, seperti Imam Nawawi mengkritik Sultan Baybirs yang berusaha menimpakan lebih banyak beban pajak demi jihad – karena dia tidak cukup menggunakan kekayaannya sendiri sebagai alasan untuk minta pajak pada rakyat.


Hal ini karena suatu masyarakat yang berdasarkan Islam dan diatur dengan Islam menghasilkan kepribadian Islam, sebagaimana masyarakat ini didasarkan pada kepentingan-kepentingan materialistis dan diatur dengan sistem yang melindungi kepentingan-kepentingan itu menghasilkan orang-orang yang hanya peduli pada dirinya sendiri.


Mentalitas Islam dibangun di atas akidah kita – yang memberitahu kita bahwa:


لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
No Imaan for whoever cannot be left with a trust and no deen for whoever does not fulfil their contracts (Bayhaqi)
Tidak beriman orang yang tidak bisa mengemban amanah dan tidak ada agama bagi mereka yang tidak memenuhi perjanjian (Hadits Riwayat Baihaqi)


Di saat ini ketika rakyat mempertanyakan sistem mereka, nilai-nilai mereka di mana sistem mereka berdiri, sebagai Muslim kita harus memberikan alternatif satu-satunya yang akan menyelamatkan umat manusia tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.


Bukankah sudah cukup kita melihat kegagalan jalan hidup mereka, saudara-saudaraku tercinta, untuk menjadikan kita yakin dan berani menolak intimidasi untuk mengikuti dan menyatu ke dalam sistem gagal mereka, dan untuk menolak diintimidasi untuk mengikuti dan mengadopsi nilai-nilai gagal mereka?


Dan bukankah ini sudah cukup gagal saudara-saudaraku tercinta sehingga kita menyeru para politisi gagal di tanah-tanah Muslim, yang terus saja mengikuti orang-orang itu bahkan masuk ke dalam lubang biawak, menyeru mereka untuk mengadopsi aqidah Islam, nilai-nilainya dan menerapkan sistemnya, dan mendukung mereka yang tulus ikhlas di dalam Umat yang berdiri untuk Islam dan agama Allah dan menjadi saksi atas umat manusia.


بارك الله لي ولكم في القرآن والسنة، ونفعنا بما فيها من الآيات والحكمة. أقول قولي هذا وأستغفر الله تعالى لي ولكم


[DO'A PENUTUP KHUTBAH]
Khutbah: Corruption
Islamic Knowledge
Friday, 15 May 2009
Hizbut-Tahrir Britain


Kutbah yang diadaptasi dari umat Islam di Inggris di atas membuktikan bahwa di manapun di dunia ini, di masyarakat Muslim maupun KAFIR, sistem demokrasi adalah rusak, gagal, buruk sejak lahirnya dan itulah sifat dasarnya. Dan demokrasi adalah HARAM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda