Sabtu, 12 Juni 2010

Arti Tsaqafah (Peradaban) Islam - Pengertian Definisi Kata Tsaqafah (Peradaban) Islam

Arti Tsaqafah (Peradaban) Islam - Pengertian Definisi Kata Tsaqafah (Peradaban) Islam

FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

F. Kelemahan Peradaban (Tsaqafah) dan Wawasan

Kata tsaqafah (peradaban) merupakan istilah kontemporer; karena masyarakat Arab tidak mengenal penggunaan kata tsaqafah ini sebagaimana makna yang dikandung kata tsaqafah pada hari ini. Meskipun kata tsaqafah memiliki keterkaitan dengan makna kebahasaan klasik. 109

Para cendekiawan bingung mendefinisikan kata tsaqafah secara tepat, 110 tetapi ada beberapa definisi yang paling mendekati substansinya. Yaitu: “Sekumpulan sifat etika dan nilai-nilai sosial yang diterima individu semenjak lahirnya. Tsaqafah dengan arti ini mencakup semua hal yang membentuk watak dan kepribadian seseorang.” 111

Atau tsaqafah dikatakan: “Gambaran hidup bagi umat, yang membentuk karakter kepribadiannya dan keberlangsungan eksistensinya, yang mengatur perjalanan hidup dan orientasi hidupnya. Tsaqafah menjadi akidah yang dipercayai, prinsip-prinsip yang dijaga, perilaku yang dipegang, tradisi yang dikhawatirkan hilang dan musnah, dan pemikiran yang diharapkan menyebar.” 112

109) Baca Lamhat fits-Tsaqafah al-Islamiyah, hlm. 22-26
110) Nahwu Tsaqafatin Islamiyah Ashliyah, hlm. 17
111) Asy-Syakhsiyah an-Najihah, hlm. 213
112) Lamhat fits-Tsaqafah al-Islamiyah, hlm. 13

Peradaban (tsaqafah) penting artinya bagi para tsiqah, tidak bisa tidak, seorang tsiqah di bidang keislaman; karena bisa menjadikan manusia mengetahui eksistensinya secara sebenarnya tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan. Pengetahuan tsaqafah ini merupakan sebuah keharusan untuk menghadapi makar, tipu daya dan jerat musuh Islam dan kaum Muslimin. Pengetahuan ini penting bagi da'i yang berharap bisa membangun kaumnya, mengembalikan mereka kepada wadah Islam, dan kepuasan menjalankan ibadah dan syari'at Islam dalam realitas kehidupan.

Saya mengenal banyak tsiqah yang tidak bisa berbicara dengan baik mengenai Islam di majelis-majelis, tidak punya cara menolak syubhat yang menghampirinyua, tidak mampu berdebat dnegan orang-orang sesat dan para pemuas hawa nafsu. Bahkan mereka tidak bisa memaparkan keutamaan Islam, tidak bisa menceritakan kisah para tokoh, pahlawan, berikut pengorbanan, jihad, zuhud dan ibadah mereka.

Janganlah saya dikira berlebihan, karena ini sebuah kenyataan di dunia para tsiqah. Saya tidak menyampaikan imajinasi, atau dugaan atau metafora apapun, insya Allah. Seluruh penjelasan saya riil, dan perlu ditangani dengan sungguh-sungguh. Bila anda bertanya, mengapa keadaan mereka demikian? Pastilah mereka menjawab: kami tidak tahu, tidak paham, juga tidak membaca. Jadi, mereka rela tidak berdayaguna, bahkan sebagiannya bangga dan mengatakan: saya tidak suka membaca dan tidak bisa membaca. Bila ia tidak membaca untuk tahu, jadi siapa yang membaca?!

Apabila para tsiqah terbelakang dan lemah di bidang tsaqafah (peradaban) dan wawasan, maka siapa yang akan tampil dan berbicara tentang Islam? Apakah orang-orang kafir yang membicarakannya? Atau musuh-musuh Islam yang tidak tahu akan Islam, atau orang-orang tak berdayaguna yang bukan ahlinya?

Karena itu, Anda melihat masalah ketidakberdayaan telah membelenggu para tsiqah yang rela hidup berpangku tangan, tidak tahu agama Islam, syari'at Islam, tsaqafah (peradaban) dan kebudayaan Islam kecuali sangat minim. Herannya mereka mengklaim membela Islam dan berdakwah.

Namun patut diketahui sesungguhnya orang Muslim tidak boleh mengambil masalah-masalah yang terkait dengan hakikat-hakikat aqidah, atau pandangan umum tentang wujud – ideologi, ibadah, akhlak dan tata-laku, nilai-nilai dan norma-norma, dasar-dasar sistem politik dan sosial, sosial dan ekonomi, atau penafsiran atas motivator-motivator kegiatan kemanusiaan dan gerak sejarah kemanusiaan, kecuali dari sumber yang Rabbani – sumber hukum Islam. Semua itu tidak boleh diambil kecuali dari seorang Muslim yang bisa dipercaya iman, takwa dan aqidahnya dalam realitas kehidupan.

Namun seorang Muslim boleh menguasai ilmu-ilmu murni seperti kimia, biologi, astronomi, kedokteran, industri, pertanian, manajemen – dari segi manajemen murni, metode produksi, siasat perang – dari segi disiplin ilmu, dan seterusnya. Semua jenis ilmu ini boleh dipelajari baik dari Muslim atau non-Muslim. Meskipun pada dasarnya, usaha memenuhi semua bidang ilmu ini dalam sebuah masyarakat Islam adalah fardhu kifayah. Untuk mewujudkan semua itu, individu Muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu murni dan implementasi praktisnya dari Muslim maupun non-Muslim. Ilmu ini tidak berkaitan dengan pembentukan pandangan seorang Muslim mengenai kehidupan, alam semesta, manusia, tujuan wujudnya, hakikat tugasnya, bentuk keterkaitannya dengan lingkungannya dan dengan penciptanya. Tidak juga berkaitan dnegan berbagai dasar, syari'at, sistem dan tatanan yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu dan masyarakat - juga negara. Juga tidak berkaitan dengan etika, tradisi, kebiasaan, nilai-nilai dan norma-norma yang mewarnai masyarakat dan membentuk karakter masyarakat tersebut. 116 Karena itu tidak ada bahayanya mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

116) Ustadz Sayyid menyebutkan banyak bidang kebudayaan Islam dalam penjelasannya di sini.

Terkadang perlu juga dipelajari sejarah perilaku jahiliyah, tapi bukan untuk membentuk pandangan dan pengetahuannya mengenai masalah-masalah di atas. Akan tetapi untuk mengetahui bagaimana penyimpangan jahiliyah - (baik dulu maupun jahiliyah modern sekarang sebelum Islam tegak kembali); bagaimana penyimpangan manusia ini dibenahi dengan mengembalikannya kepada prinsip-prinsip yang benar dalam norma-norma konsep Islami dan hakikat-hakikat akidah Islamiyah.

Pendapat bahwa (tsaqafah) peradaban “tradisi insani”; tidak punya tanah air, ras dan agama, merupakan pandangan yang benar hanya jika yang dimaksud adalah ilmu-ilmu murni dan implementasi praktisnya. - (Maka kata tsaqafah atau peradaban tidak digunakan untuk menyebutkan sains atau ilmu pengetahuan alam). Selama wilayah ini tidak menyeberang ke penafsiran-penafsiran filosofis “metafisika” sebagai hasil dari ilmu-ilmu ini, tidak kepada penafsiran-penafsiran filosofis atas diri manusia, perilaku dan sejarahnya, tidak kepada seni, sastra dan ekspresi perasaan. Namun di balik itu semua, pendapat ini merupakan senjata Yahudi internasional untuk merobohkan pagar aqidah dan pandangan hidup Islam, agar Yahudi bisa menguasai seluruh dunia dalam keadaan tak sadar, dan menjalankan perilaku setannya. 117

117) Ma'alim fith-Thariq, hlm. 138-141

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda