Sabtu, 12 Juni 2010

Kritik (Jarh) Orang Ulama Tsiqah - Hati Ketidakberdayaan

Kritik (Jarh) Orang Ulama Tsiqah - Hati Ketidakberdayaan

FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

E. Seorang Tsiqah menghujat Saudara-Saudaranya yang juga Tsiqah

Di antara ketidakberdayaan yang paling besar dan jelas adalah ketika seorang tsiqah bernadzar membuka aib orang lain, terlebih jika mereka juga tsiqah. Orang tsiqah ini melakukannya di berbagai acara atau pertemuan atau media penyiaran. Tidakkah ia tahu bahwa penentangan terhadap orang yang lebih tsiqah atau terhadap sekelompok tsiqah itu sebagai perbuatan ganjil? Hendaknya ia meyakini bahwa setan telah menampakkan hujatan ini sebagai sesuatu yang indah di matanya, dengan alasan jarh wa ta'dil (kritik) dan menjelaskan hak. Terkadang sebagian ucapan penghujat itu benar, namun terbenam dalam lautan kesewenang-wenangan, balas dendam dan hawa nafsu. Kaidah Islam menetapkan bahwa jarh wa ta'dil (kritik) apabila dicampur dengan hawa nafsu, balas dendam dan kesewenang-wenangan, maka pelakunya berdosa bukan berpahala, dan ucapannya ditolak bukan diterima.

Termasuk musibah adalah ketika seorang tsiqah melayangkan jarh (kritik) kepada sekelompok besar manusia atas dasar praduga. Apa yang akan diperbuat oleh orang naif ini apabila mereka datang pada hari kiamat hendak berhujjah di hadapan Allah, sedangkan ia tidak mempunyai satu hujjah pun kecuali aku mendengar, aku kira, atau dikatakan kepadaku?! Kaum salaf tidak pernah mengkritik secara umum, kecuali terhadap kelompok aliran aqidah yang berbuat bid'ah, di mana individu-individu kelompok itu sepakat atas prinsip-prinsip bid'ah yang mengharuskan pemberlakuan jarh (kritik) secara umum. Semua itu dilakukan dengan sikap wara', serta tidak mengucapkan jarh (kritik) yang tidak mampu mereka lakukan. Setiap kelompok salaf menghindari berbuat seperti si naif itu. Mereka sangat takut pada etika tercela ini, yang telah didistorsikan iblis dengan kesan menasihati dan amar ma'ruf. Orang yang hatinya sehat bisa membedakan distorsi ini dengan jelas. 98
98) Al-'Awa'iq, hlm. 149.

Banyak ulama mulia yang dicela, karena menghujat para ulama dan tsiqah hingga mereka menjadi masyhur karena perbuatannya itu. Bagaimana dengan orang yang mencela umat atau kelompok atau jama'ah, tanpa bersandar pada ajaran agama Islam, serta tidak bertolak dari sikap wara' dan hati nurani?

Apabila ia tidak memiliki kebersihan hati terhadap kaum Muslimin dan tidak menemukan besarnya pahala fadhilah itu, maka sungguh ia telah kehilangan banyak kebajikan. La haula wa la quwwata illa billahil'Aliyyil-'Azhim.

Imam adz-Dzahabi 100 rahimahullah berkata, “Apabila kita dapat membuktikan bahwa ucapan para karib itu berdasarkan hawa nafsu, maka tidak perlu lagi dipertimbangkan; bahkan harus dilipat dan tidak diriwayatkan. Di dalam buku-buku sejarah dan jarh wa ta'dil terdapat hal-hal yang mengherankan; orang berakal yang memusuhi dirinya sendiri. Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya; daging ulama beracun ... Bagaimanapun, orang-orang bodoh dan sesat itu angkat bicara tentang para shahabat yang terpilih.
100) Muhammad bin Ahmad bin Utsman, al-Hafizh Syamsuddin, Abu Abdullah at-Tarkumani adz-Dzahabi, muhaddits di masanya, lahir tahun 673, belajar hadits dan karenanya berkelana semenjak umur 18 tahun. Ia menulis beberapa karangan yang bermanfaat, wafat tahun 748 setelah sakit beberapa saat, semoga Allah merahmatinya. Lihat riwayat hidup Adz-Dzahabi dalam Thabaqatusy-Syafi'iyah al-Kubra: 9/100-123. Tapi perlu diwaspadai kritik as-Subki dalam ath-Thabaqat atas gurunya adz-Dzahabi. Kritik ini tidak perlu dihiraukan. Wallahu A'lam.

Imam adz-Dzahabi juga mengatakan : “Diketahui ada banyak pernyataan ulama terhadap ulama lain segenerasi yang tidak bisa diterima. Terlebih ketika seorang ulama dinilai tsiqah oleh sekelompok ulama yang ucapannya ditengarai objektif.” 102

Ia juga berkata, “Bagaimanapun pernyataan seorang ulama mengenai ulama lain segenerasi itu perlu dipertimbangkan. Merahasiakannya itu lebih baik daripada menyebarluaskannya, kecuali ulama segenerasi sepakat men-jarh (mencela) seorang syaikh, sehingga pernyataan mereka ini bisa dijadikan pegangan. Wallahu A'lam.” 103

Ia juga menyatakan: “Sungguh bisa diketahui kelemahan pernyataan ulama-ulama segenerasi yang saling bersaing antara sebagian dengan sebagian yang lain. Kami mohon ampun kepada Allah.” 104
102) Ibid., 2/958. Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim, kitab Sifatul-Munafiqin wa Ahkamuhum, bab la Ahada Ashbara 'ala Adzan minallah 'Azza wa Jalla.
103) Ibid., 3/1350
104) Al-'Awa'iq, hlm. 149, dinukil dari 'Uyunul-Akhbar karya Ibnu Quthaibah: 2/14

Di akhir bahasan ini saya harus menukil pernyataan seorang ulama salaf sebagai penutup sekaligus nasihat dan peringatan:

Tidak ada suatu perkara yang lebih cepat melunturkan amal, merusak hati, merusak hamba, mengabadikan kesedihan, mendekatkan kepada kebinasaan, menarik cinta terhadap riya', 'ujub dan kepemimpinan, melebihi kekurangtahuan hamba akan dirinya dan pencariannya akan aib-aib orang lain.” 108
108) Ibid., hlm. 147, dinukil dari pernyataan as-Sari as-Saqathi rahimahullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda