Senin, 17 Desember 2007

CERITA EVALUASI PRAKTEK NEGOSIASI

GETTING THE PACKAGE TO THE AIRPORT

Kim Rising, Ashley Nonnon

Kim Rising

Seperti yang telah digambarkan dalam secret instruction, saya berperan sebagai pemilik perusahaan jasa konsultan dimana perusahaan ini masih baru dan letaknya dipinggiran kota. Saya memiliki kepentingan yang mendesak untuk segera mengirimkan paket kebandara untuk diserahkan ke perusahaan jasa kurir untuk dikirim ke Washington dan harus sampai paling lambat jam 10 malam. Paket tersebut berisi barang-barang yang berharga, tidak bisa ditunda lagi (time sensitive) dan tidak memungkinkan untuk digantikan.


Permasalahan disini adalah bagaimana paket tersebut dapat diantarkan ke bandara yang akan diserahkan kepada perusahaan jasa kurir paling lambat jam 5, padahal paket tersebut baru siap untuk dikirim jam 1 siang. Tak hanya itu, saya tidak percaya jasa taxi maupun transportasi public lainnya karena tidak dapat dipercaya dan memakan waktu lama, dan saya tidak bisa mengantar paket itu sendiri karena ada proyek yang harus diselesaikan hari ini.


Kemudian saya harus menunjuk bawahan saya untuk mengantarkan paket tersebut, namun hamir semua karyawan memiliki tugas yang harus diselesaikan hari ini juga bersama saya. Namun ada Ashley Nonnon, karena hanya dia satu-satunya yang bisa membantu saya mengantarkan paket tersebut. Yang jadi masalah, Ashley adalah orang yang metodis, mempunyai rumah yang jauh dari bandara, mempunyai sifat yang sulit dipahami dan kurang kreatif ( sulit menemukan ide baru ).


Sekarang jam 9 pagi, barang tersebut akan siap untuk diantarkan jam 1 siang . Di bandara, paket tersebut harus sampai ke tangan perusahaan kurir paling tidak jam 5 sore dan kemudian di antar ke Washington malam ini yang membutuhkan waktu dua jam.


Persiapan Negosiasi

Yang harus saya pahami adalah sebenarnya apa yang ada di secret instruction. Saya membaca dan menyiapkan catatan kecil untuk persiapan negosiaisi. Saya mencoba menggambarkan situasi yang dialami oleh Kim Rising dan perusahannya dan juga orang yang bernama Ashley Nonnon yang akan saya suruh untuk mengantarkan paket tersebut walaupun sebenarnya Ashley orangnya metodis, mempunyai sifat yang sulit dipahami dan kurang kreatif ( sulit menemukan ide baru ).Sehingga inti dari secret instruction tersebut adalah

  • Saya memiliki kepentingan yang mendesak untuk segera mengirimkan paket kebandara untuk diserahkan ke perusahaan jasa kurir paling lambat jam 5 untuk dikirim ke Washington dan harus sampai paling lambat jam 10 malam. Namun paket baru siap jam 1 siang.

  • Orang yang saya suruh adalah Ashley namun dia mempunyai sifat yang metodis, sulit dipahami dan kurang kreatif ( sulit menemukan ide baru. )

  • Tidak ada selain Ashley yang dapat mengantarkan paket tersebut

Dari gambaran tersebut berarti saya harus mempersiapkan negosiasi seperti apa yang akan saya lakukan. Untuk iu saya memakai tipe negosiasi collaborative karena saya menginginkan kerja sama, hubungan kerja yang penting, dan bisa memunculkan ide-ide yang kreatif. Namun bila kesepakatan tak kunjung terjadi denagn menggunakan collaborative naka saya menggunakan tipe negosaisi kompromi, dimana walaupun kerjasama penting tapi waktu sangat mendesak.


Dan kesuilitan menemukan pilihan terbaik atas permasalahan diatas. Selain itu, bila kesepakatan sulit terjadi, maka saya akan menggunakan BATNA saya, saya bisa meminta perusahaa jasa kurir untuk mengambil paket tersebut, walaupun biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar.




Proses Negosiasi

Dimulai dari saya duduk diruangan dan dihadapkan permasalahan mengenai paket tersebut yang harus diantarkan kebandara. Tak hanya itu, saya juga dihadapkan pada proyek yang harus diselesaikan hari ini. Karena waktu menunjukkan sudah jam 9, saya mengajak manajer yang terlibat dalam proyek termasuk Ashley untuk ke Café perusahaan untuk membahas proyek yang harus diselesaikan hari ini.


Kemudian saya menyuruh sekertaris untuk memberitahu manajer-manajer proyek untuk berkumpul dicafe perusahaan, untuk Ashley akan saya ajak sendiri, karena saya memiliki kepentingan dengannya untuk mengantarkan paket kebandara. Saya masuk keruangannya, dan langsung mengajaknnya ke café perusahaan, namun dia menolak ikut kecafe dengan alasan capek dan banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Saya menggunakan pendekatan collaborative untuk membujuknya, namun sepertinya Ashley masih tetap menolak dengan alasan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.


Sepertnya Ashley lagi banyak pkiran, dan saya bilang sebagai pimpinan disini, saya tidak ingin masalah apapun diluar kantor dibawa kekantor, namun karena saya melihat dia adalah seorang wanita yang bisa dikata lebih peka perasaannya. Saya mencoba untuk memahami permasalahnnya, dengan bertanya, apa yang kamu hadapi sekarang, namun dia tetap saja tidak mau berterus terang. Dia malah menginginkan duduk saja dan bilang bila ada pekerjaan kasihkan kesaya saja nanti saya akan kerjakan.


Karena terlalu ribet dan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Kemudian saya langsung menyuruhnya untuk mengantarkan paket yang akan siap jam satu dan harus sampai dibandara sebelum jam 5 sore. Karena paket itu penting maka harus sampai Di Washington sebelum jam 10 malam. Eh tetap saja Ashley menolak untuk mengantarnya denagn alasan-alasan yang lebih tidak masuk akal lagi. Seperti, saya (Ashley) memiliki pekaerjaan yang harus segera diselesaikan, dan tidak mau digangggu, padahal saya (Kim) menyuruh karyawan lain untuk menyelesaikan pekerjaajnnya, namun tetap saja dia menolak.


Dia tetap saja menolak, dan hanya berkata sedikit, ‘saya tidak mau, saya capek, saya mau menyelesaikan pekerjaan ini’. Alternatif terakhir saya menyuruhnya bersama supir saya dengan menggunakan mobil perusahaan untuk mengantarnya kebandara. Dan saya mengatakan bahwa paket itu penting bagi kemajuan perusahaan di masa depan dan reputasi perusahaan akan meningkat. Namun dia tetap saja menolak dan menyatakan dia benar-benar tidak bisa. Karena terlalu berbelit-belit saya meninggalkannya dan menyuruhnya untuk berfikir dulu, nantio saya akan temui lagi.


Kemudian jam 12 saya mencoba membujuknya dan mempersiapkan pendekatan komproni untuk menyelesaikan permasalahan ini.. Kemudian saya menyarankan kepada Ashley untuk menunda dulu pekerjaannya sehingga dia punya waktu untuk mengirimkan barang tersebut ke jasa kurir dia bandara. Saya menekankan padanya kalau paket tersebut harus segera dikirim karena bila paket tersebut tidak sampai ke Washington tepat waktu, maka akan merusak kredibilitas dan reputasi perusahaan konsultan yang saya pimpin.


Namun dia malah menolakknya dengan alasan –alasan dan alasan dia tidak bisa karena banyak pekerjaan dan capek. Saya memberikan tawaran padanya, apakah ada solusi untuk permasahan ini. Dia hanya menjawab, suruh saja orang lain yang ada dikantor untuk mengantarnya. Alasannya semakin membuat saya jengkel, apakah dia tidak memikirkan sama sekali atas posisinya sebagai apa dan bagaimana tugasnya pada posisi itu.


Saya sejenak meredakan emosi, dan memintanya kembali memecahkan persoalan ini. Namun dia bersikeras tidak bisa memberikan solusi. Akhirnya saya kesal, dan ”menekan” atas posisi pekerjaannya. Kalau dia tidak bisa memberikan solusi dan hanya berbelit-belit pada ketindaksanggupannya untuk melakukan pekerjaan ini saya akan menurunkan posisi pekerjaannya ke level bawah Ternyata dia masih tetap saja tidak mau melakukannya. Akhirnya saya putuskan mulai besok dia sebagai karyawan yang membantu manajer lapangan dalam menyelesaikan proyek-proyek karena terlihat lebih cocok dilapangan, tidak dikantor yang penuh dengan deadline pekerjaan.


Hasil

Negosisis mungkin bisa dibilang gagal untuk mencapai tujuan bersama, karena adanya pihak (Ashley) urang memperdulikan kepentingan utama dalam proses negosisi tersebut, cenderung lebih mementingkan posisi dan kepentingannya sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan perusahaan yang lebih penting.


Pada akahirnya saya harus menurunkan posisi pekerjaan Ashley dari lingkungan kantor untuk dipindahkan ke lapangan. Dan untuk masalah paket tersebut, saya harus memanggil kurir dari perusahaan jasa kurir untuk mengambil paket tersebut walaupun akan dikenakan tambahan biaya.


Evaluasi

Negosisi ini bisa dibilang sangat unik, dan jarang ditemui diperusahaan, karena kebayakan karyawan akan menuritu perintah pemimpin peusahaan. Namun biala dihadapkan pada situasi seperti ini memang sangat sulit, bukan hanya karena Ashley sebagai pihak yang bisa dikatakan tak layak ada diperusahaan karena kurang memberiakn kontribusi ke perusahaan namun dia juga sebagai manusia yang mungkin biasa melakukan kesalahan.


Disini yang paling menentukan adalah seberapa sabarnya pemimpin perusahaan, karena bila hanya memikirkan jangka pendek bisa saja Ashley dipecat, namun posisinya sebagai peruasahaan baru, memang masih membutuhkan karyawan untuk menyelaseaiakan proyek-proyek yang selalu dikerja waktu. Sebenarnya Ashley bisa berkontribusi dalam hal ini bila di memberikan solusi, dan alternatif-alternatif. Yang saya pertanyakan, apakah secret instruction Ashley memang ditulis bahwa dia harus menolak semua permintaan dari bosnya?...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda