Jumat, 14 Desember 2007

CERITA PAKET AIRPORT

SIMULASI NEGOSIASI

GETTING PACKAGE TO THE AIRPORT


  1. Persiapan

    • Pelaksanaan secret instruction:

Sesuai dengan secret instruction, saya bertindak sebagai seorang pekerja yang pada suatu waktu dipindahtugaskan ke Massachusette, dimana ia belum mengenal dengan baik jalan dan sarana transportasi yang tersedia. Saya kesulitan (tidak tahu) sarana transportasi yang dapat digunakan untuk perjalanan dari rumah menuju tempat kerja.


Saya menggunakan mobil untuk pergi ke kantor. Saya tidak suka menggunakan peta karena tidak biasa dan tidak bisa membaca arah dengan baik sehingga sering kali tersesat. Saat ini, jalan yang saya tahu hanyalah jalan dari rumah menuju kantor saja.


Suatu malam pun dalam perjalanan pulang ke rumah, saya masih tersesat ketika saat itu sedang hujan deras. Saya sangat stres dengan tugas yang menumpuk dan belum selesai. Lamanya mengendarai mobil akibat tersesat dan seringnya mengerjakan tugas yang harus diketik membuat saya sangat lelah.


Saya adalah orang yang selalu pesimis, suka mengeluh, dan berpikiran negatif. Bahkan, kebiasaan saya ini seakan menyebarkan aura yang tidak menyenangkan bagi yang lain. Ashley tidak sukses dalam sosialisasi dengan pekerja yang lain. Ashley tidak pernah tersenyum.


  • Identifikasi lawan negosiasi:

Lawan negosiasi kali ini adalah Dian Mandasari yang bertindak sebagai Kim Rising yang merupakan supervisor di tempat saya bekerja. Saya belum begitu mengenal Dian Mandasari, yang saya lakukan adalah berusaha memprediksi bagaimana karakternya.


Pada awal sebelum melakukan negosiasi saya memperkirakan bahwa ia adalah tipe orang yang tidak suka banyak bicara, cenderung diam. Tampaknya ia tidak akan melakukan banyak tawaran sehingga cenderung pasif.


  • Identifikasi Interests:

        1. Interests saya: - Tugas-tugas saya dapat terselesaikan.

  • Saya memperoleh waktu yang lebih luang untuk beristirahat.

  • Tidak tersesat dalam perjalanan menuju bandara bila saya bersedia mengantar barang.

        1. Interests lawan (Dian): - Bisa menyuruh Ashley (saya) untuk mengantarkan barang ke airport.

  • Menyelesaikan proyek penting.

  • Barang dapat diantar dengan selamat dan tepat waktu.

  • Strategi negosiasi:

Dengan melihat secret instruction yang diberikan dan identifikasi lawan negosiasi, maka saya akan berusaha menjalankan instruksi dengan baik, terutama mengenai karakter yang harus diperankan. Dan berdasarkan hal itu, saya akan lebih banyak melakukan tawaran dengan mengajukan banyak persyaratan yang menguntungkan bagi saya. Saya akan terus memperkuat aegumen saya terutama terkait kepentingan saya.


  1. Target

Dalam negosiasi ini, saya mentargetkan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan mudah dan memperoleh keringanan atau bantuan atas tugas yang belum selesai. Saya ingin mendapatkan kompensasi yang lebih bersifat intangible seperti waktu yang lebih luang (cukup istirahat) dan keringanan tugas


  1. Proses

Pada awal negosiasi, Dian (Kim Rising) langsung menyampaikan kepentingannya, yaitu bahwa ia akan memberikan tugas kepada saya. Ia berkata bahwa ia harus mengirimkan sebuah barang yang sangat penting. Barang itu harus diantar ke airport. Ia tidak bisa mengantar sendiri karena ia ada proyek yang harus segera diselesaikan. Ia menghendaki saya untuk mengantar barang tersebut karena saya satu-satunya orang yang berada di kantor saat itu. Barang tersebut harus sampai di airport sebelum jam 17.00. Lalu ia menanyakan kepada saya apakah saya bersedia melakukannya.


Dengan memasang muka yang tampak lelah dan sangat tidak bersemangat, saya menjawab bahwa saya tidak bisa karena ada banyak tugas yang belum selesai dan sebaiknya ia sendiri atau menyuruh orang lain saja untuk mengantarnya. Dian pun merespon dengan mengatakan bahwa ia tidak bisa karena proyek tersebut sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, satu-satunya orang yang ada di kantor hanya saya. Ia menyatakan bahwa saya adalah satu-satunya orang yang dapat dipercaya untuk mengantar barang penting itu. Lagi-lagi saya mengatakan bahwa saya tidak bisa mengantar karena saya tidak mau meninggalkan tugas yang belum selesai karena waktu saya untuk menyelesaikan tugas akan semakin singkat.


Kemudian, Dian mencoba lagi untuk membujuk saya agar bersedia mengantarkan barang itu. Ia berjanji akan memberikan kesempatan bagi saya untuk dapat pulang ke rumah lebih awal, yaitu jam 14.30. Menanggapi hal tersebut, saya merasa kompensasi yang ia berikan belum cukup, saya menolak dengan alasan bahwa saya tidak mau mengambil resiko tugas saya yang masih menumpuk tidak dapat selesai nanti.


Kemudian, saya meminta setidaknya keringanan agar tugas saya dapat segera terselesaikan bila saya yang akan mengantar barang ke airport. Saya mengajukan syarat adanya bantuan dari Dian untuk menyelesaikan tugas-tugas saya. Lalu ia menyatakan setuju dan akan menyuruh pekerja lain untuk membantu menyelesaikan tugas saya tersebut. Setelah itu, Dian menanyakan apakah saya telah menyetujui untuk mengantar barang tersebut. Saya mencoba menahan keputusan saya terlebih dahulu dengan menanyakan seberapa jauh dan seberapa lama perjalanan dari kantor ke airport.


Dian mengatakan bahwa jaraknya tidak cukup jauh, perjalanan menuju ke sana hanya akan memakan waktu selama 1-2 jam saja. Dua jam adalah waktu yang maksimal. Saya mengatakan bahwa saya tidak tahu jalan dari kantor menuju airport. Dian mengatakan akan memberikan peta sebagai pedoman arah jalan. Mengingat kebiasaan saya yang sering tersesat akibat tidak pandai dalam membaca peta (arah), maka saya terus berkelit. Saya menyatakan bahwa saya tidak bisa menggunakan peta dan bahkan sering tersesat.


Saya menceritakan kejadian dimana kemarin malam saya sempat tersesat ketika dalam perjalanan menuju rumah. Saya sangat lelah. Dian berusaha merayu bahwa peta tersebut mudah untuk dibaca, sehingga saya akan sampai dengan mudah.


Saya masih merasa ragu, saya menyatakan bagaimana kalau saya berangkat dari kantor lebih awal, yaitu jam 14.00. Saya khawatir jika nanti tersesat sehingga memerlukan waktu yang lebih lama. Saya berusaha mengelak bahwa itu tidak akan mudah bagi orang seperti saya. Saya berusaha membuat ”kecemasan” dengan berkata bagaimana nanti seandainya saya tersesat, padahal barang yang harus diantar adalah barang yang penting, apakah ia mau mengambil resiko seperti itu.


Tadinya Dian sempat berpikir cukup lama mengenai pernyataan saya ini. Kemudian saya langsung berkata bila nanti saya tersesat dan bingung, maka saya akan meminta bantuan darinya, saya akan menelepon Dian agar memberi petunjuk yang lebih jelas. Dian pun akhirnya menyetujui tawaran saya ini. Tetapi


Dian menghendaki saya tetap bekerja sebelum jam 14.00 mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai. Saya pun mengiyakan tawaran itu, namun saya tetap menyatakan bahwa saya yakin tugasnya tidak akan dapat selesai pada hari itu juga dan perlu bantuan untuk menyelesaikannya. Sekali lagi Dian menyatakan akan membantu dengan menyuruh pekerja lain. Saya mengatakan bahwa saya perlu jaminan akan bantuan tersebut karena sosialisasi saya dengan pekerja lain tidak baik.


Saya khawatir jika nantinya mereka tidak mau membantu meskipun disuruh karena tahu itu adalah tugas yang seharusnya saya selesaikan. Dian mengatakan bahwa ia akan menjamin hal itu, ia meyakinkan saya bahwa itu adalah perintah darinya sehingga ia sendiri yang akan meng-handle masalah itu. Urusan dengan pekerja lain tidak usah saya pikirkan karena hal itu akan ditangani olehnya. Dia berjanji akan membantu dan menjamin tugas-tugas saya akan selesai dengan baik. Akhirnya, kami pun deal. Saya


  1. Hasil

Saya bersedia mengantar barang ke airport pada jam 14.00 dan segera sampai sebelum jam 17.00. Saya diberikan peta sebagai petunjuk jalan dan dapat menelepon Dian jika saya tersesat atau ada masalah. Dian akan membantu menyelesaikan tugas-tugas saya yang belum terselesaikan. Dia menjamin bahwa tugas saya akan selesai dengan baik.


  1. Evaluasi

Dalam negosiasi ini, strategi yang saya gunakan adalah terus berkelit dan mengajukan persyaratan yang dapat memenuhi kepentingan saya. Hal ini sesuai dengan karakter yang harus saya perankan. Saya terus berusaha membuat ”kecemasan” bagi pihak lawan. Tampaknya strategi yang saya gunakan cukup berhasil. Namun, saya kurang maksimal dalam menjalankan karakter dalam instruksi.


1 komentar:

  1. bodoh bener sih gak bisa baca peta, itu namanya males, mau negoisasi kaya apa juga, tetep aja sikap kaya gitu ga boleh dipiara, manja bener, baca peta aja gak mau

    BalasHapus

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda