Sabtu, 29 Desember 2007

III.10.1 Cadangan Batubara

Direktorat Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengidentifikasi cadangan batubara tertunjuk sebanyak 38.768 juta MT (metrik ton). Dari jumlah tersebut, sekitar 11.484 juta MT merupakan cadangan terukur dan 27.284 juta MT cadangan terindikasi, dengan sekitar 5.362 juta MT yang diklasifikasikan sebagai cadangan yang tereksploitasi.


Sumber daya ini sebagian besar berada di Kalimantan yang menyimpan deposit sebesar 61% (21.088 juta MT), di Sumatera 38% (17.464 juta MT) dan sisanya tersebar di wilayah lain. Kalimantan juga memiliki cadangan deposit thermal coal dengan nilai bakar (calorific values) tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Berdasarkan kualitas, batubara dapat dikategorikan sebagai batubara kualitas tinggi dengan kadar zat terbang (volatile matter) tinggi, sehingga mampu menghasilkan nilai bakar mencapai 7,000 kcal/kg atau lebih. Sementara itu, batubara dengan kualitas rendah disebut batubara muda (brown coal lignite) ditandai dengan kadar air yang tinggi sehingga memiliki nilai bakar hanya sekitar 5,000 kcal/kg atau kurang.


Cadangan batubara Indonesia mayoritas berupa lignite yang mencapai 59%, diikuti sub-bituminous (27%), dan bituminous (14%). Anthracite, batubara terbaik, hanya berjumlah kurang dari 0.5% dari total cadangan. Lignite merupakan batubara yang kurang ekonomis untuk diekspor karena memiliki kadar air yang sangat tinggi (di atas 30%) dan nilai bakar di bawah 5.000 kcal/kg.


Pertambangan batubara Indonesia pada umumnya memproduksi batubara dengan calorific values bervariasi antara 5.000 – 7.000 kcal/kg, dengan kadar abu dan belerang yang rendah. Kadar belerang dalam batubara yang dihasilkan di Indonesia umumnya di bawah 1,0%, menghasilkan emisi gas SO2 yang rendah sehingga dapat digolongkan sebagai batubara ramah lingkungan.


Menurut Agus Sugiyono, seorang peneliti BPPT, Indonesia memiliki cadangan batubara yang besar, jauh melebihi cadangan sumber energi lainnya. Cadangan batubara setidaknya mencapai 36,3 milyar ton, atau setara dengan 137,2 milyar SBM (Setara Barel Minyak). Sementara itu cadangan gas alam Indonesia adalah 137,79 TSCF (Tera Standard Cubic Feet), setara dengan 23,9 milyar SBM dan minyak bumi sebesar 9,1 milyar SBM.


Walaupun batubara mempunyai cadangan yang melimpah, penggunaannya masih sangat sedikit. Dilihat dari rasio cadangan dibagi produksi (R/P Ratio) batubara masih mampu digunakan selama lebih dari 500 tahun. Sedangkan gas alam dan minyak bumi masing-masing 43 tahun dan 16 tahun. Melihat volume cadangan ini, batubara diperkirakan akan mempunyai peran yang lebih besar sebagai penyedia energi nasional.

Produksi Batubara. Produksi batubara Indonesia pada tahun 2004 yang lalu mencapai 127 juta MT, meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 120 juta MT. Pada tahun 2005 diperkirakan produksi batu bara Indonesia akan meningkat lagi mencapai 150 juta ton. Perkembangan produksi batubara Indonesia adalah sebagaimana dalam Gambar 2 sebagai berikut:

Dari jumlah produksi tersebut, sekitar 86% berasal dari kontraktor PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) generasi I-III, sementara PTBA (PT Tambang Batubara Bukit Asam Persero) memproduksi kurang dari 10% dari total produksi tersebut dan sisanya diproduksi oleh perusahaan pemegang Kuasa Penambangan (KP) dan KUD.


III.10.2 Konsumsi Batu Bara Indonesia

Sebagaian besar produksi (67,5%) digunakan untuk memenuhi pasar ekspor ke berbagai negara terutama di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang, Taiwan, Korea dan negara-negara ASEAN. Sisanya sebesar 32,5% digunakan untuk keperluan di dalam negeri antara lain untuk pembangkit listrik, pabrik semen, industri pulp dan lainnya. Pemakaian batubara terbesar adalah untuk industri listrik (PLTU) yang mencapai 20 juta ton, diikuti oleh industri semen sebesar 4,2 juta ton, dan sisanya untuk industri lain.


Penggunaan batu bara diperkirakan meningkat menyusul rencana pemerintah mengembangkan sejumlah proyek PLTU batubara dalam waktu dekat. Tender pembangkit listrik diutamakan untuk batubara dan gas. Jadi akan ada peningkatan kapasitas [konsumsi domestik] dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Pengusahaan batubara di Indonesia umumnya dikelola oleh perusahaan milik negara (BUMN), perusahaan dalam rangka kontrak kerjasama dengan Perum batubara (KKS), perusahaan swasta nasional dan koperasi. Jumlah kuasa pertambangan yang dikelola swasta nasional (KP Swasta) dan Koperasi/KUD (KP-Koperasi) tahun 2004 mencapai 251 perusahaan, terdiri dari 216 perusahaan swasta nasional sedangkan sisanya perusahaan asing.


Konsumsi batubara domestik tahun 2005 diproyeksikan mencapai 45,5 juta ton atau meningkat sekitar 11,8% dibandingkan realisasi penjualan pada 2004. Sementara, 48% kontraktor pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) di Indonesia akan meningkatkan penjualannya di pasar dalam negeri. Kebutuhan pasar domestik tersebut akan dipasok dari produksi kontraktor kuasa pertambangan (KP) sebesar 5,6 juta ton dan 39,9 juta ton dari kontraktor PKP2B.


Menurut data Direktorat Pengusahaan Mineral dan Batubara, penjualan batubara di pasar dalam negeri pada 2003 sekitar 30,1 juta ton, meningkat 11,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, volume pada 2004 terealisasi 40,7 juta ton yang dipasok dari kontraktor KP, termasuk BUMN tambang sebanyak 7,3 juta ton dan suplai kontraktor PKP2B sebesar 33,4 juta ton.


Konsumsi batubara Indonesia rata-rata meningkat sebesar 9% per tahun. Diharapkan konsumsi ini akan semakin meningkat dengan naiknya kontribusi batubara di dalam energy mix untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang saat ini cadangannya semakin menipis serta untuk optimalisasi pendapatan negara dari migas bagi kelangsungan pembangunan. Namun, pengembangan pemanfaatan batubara dalam negeri masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur pendukung terutama dalam hal transportasi dan distribusi. Disamping itu, harga jual batubara dalam negeri yang lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional menyebabkan produsen batubara lebih menyukai pasar luar negeri dibandingkan pasar dalam negeri.


Oleh karena itu, guna menjamin ketersediaan batubara untuk keperluan domestik, maka Pemerintah perlu mengatur keamanan suplai karena dapat berdampak kepada terganggunya kegiatan sektor lainnya terutama pasokan batubara untuk pembangkit listrik. Pada awal 2005, harga batubara di pasar internasional meningkat cukup tajam. Tingginya harga tersebut terkait dengan naiknya konsumsi batubara pada hampir semua negara konsumen terutama Cina dan dampak dari tingginya harga minyak di pasar internasional (sejak terjadinya perang di Irak) sehingga banyak industri yang beralih dari minyak kepada gas dan batubara. Indonesia tidak dapat memanfaatkan momentum ini walaupun dari sisi cadangan hal ini sangat dimungkinkan. Hal ini disebabkan karena sejak lima tahun terakhir tidak ada investasi untuk pembangunan tambang baru akibat berbagai permasalahan internal seperti keamanan, sistim perpajakan, tumpang tindih penggunaan lahan, dan isu-isu lainnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda