Jumat, 07 Desember 2007

Melatih Kemandirian Anak

Cara Melepas Ketergantungan Anak

Di usia ini, anak memang masih amat lengket dengan orang tuanya. Namun dengan perlakuan yang tepat, melepas anak agar lebih mandiri, tidak mustahil, kok.

Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara, setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.

Hizbut Tahrir Indonesia » Islam Menjamin Hak-Hak Perempuan

21 Apr 2007 ... Gerakan ini menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan. ... Dalam perjuangannya, orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat .... Ternyata tak jauh beda, bahkan lebih buruk. ...
hizbut-tahrir.or.id/2007/04/21/islam-menjamin-hak-hak-perempuan/

Hizbut Tahrir Indonesia » Kesetaraan Gender: Merusak Perempuan

6 Jun 2010 ... Kemudian, gagasan-gagasan seputar 'kemandirian dan pembebasan perempuan' serta ... Pertemuan ini digagas oleh 12 orang gender dari 11 negara dan ... perkawinan sekaligus membuka keran kebebasan atas nama kesetaraan. ...
hizbut-tahrir.or.id/2010/06/08/kesetaraan-gender-merusak-perempuan-dan-g...

manifesto-ht-untuk-indonesia - Manifesto Hizbut Tahrir untuk I...

dan Asia serta Amerika Latin yang saat ini ditindas oleh negara-negara penjajah. ...... kemandirian dalam sebuah negara, benar-benar dapat diwujudkan. ... orang seperti ini harus dilindungi dengan alasan kebebasan berekspresi? ...... Perbedaan pendapat dalam persoalan hukum (fiqh) di ...
hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/07/manifesto-ht-untuk-indone...

Hizbut Tahrir Indonesia » Serial Syariah : Politik Luar Negeri ...

Pada saat kaum muslim berhasil membuka kota Makkah dan orang-orang kafir .... Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara ilmu pengetahuan (sains .... Dominasi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa begitu kuat di dunia Islam. .... membangun kemandirian dalam bidang pertanian, industri, dan pengembangan militer ...
hizbut-tahrir.or.id/2008/12/15/serial-syariah-politik-luar-negeri-daulah...

Hizbut Tahrir Indonesia » Demokrasi Menghinakan Perempuan

11 Apr 2009 ... Perbedaan ini hanya dipandang sebagai hak perempuan menjalankan peran reproduksi , ... Di negara-negara penganut demokrasi dan kebebasan, telah terjadi syndrome pada kaum perempuan yang akhirnya gamang pada kemandirian mereka sendiri. ... yang diamini oleh kebanyakan perempuan Amerika Serikat. ...
hizbut-tahrir.or.id/2009/04/11/demokrasi-menghinakan-perempuan/

Hizbut Tahrir Indonesia » Hidayatullah Muttaqin: “Indonesia

5 Sep 2008 ... Apa indikasi bahwa Indonesia telah terjual? Siapa yang dengan tega menjual Indonesia? ... PT Semen Gresik di pasar modal Indonesia dan pasar modal Amerika. ... Pertama: sejak Orde Baru kemandirian ekonomi sudah rapuh seiring dengan ... menonjolkan kepemilikan individu atau kebebasan kepemilikan. ...
hizbut-tahrir.or.id/2008/09/05/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi, membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.

Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat, masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak hingga ia berusia dewasa.


Berikut 8 langkah yang diberikan Niken, agar anak bisa melonggarkan keterikatannya pada ayah-ibu.

1. TUMBUHKAN RASA AMAN NYAMAN
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.

Agar anak merasa aman, orang tua perlu memberi penjelasan sederhana yang mudah dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak perlu takut." Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman. "Kenapa takut? Kan, Mama ada di sini, di samping Adik," misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya agar tumbuh perasaan nyaman.

Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.


2. BANGUN RASA PERCAYA DIRI
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.

Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.

Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.


3. HARGAILAH ANAK
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.

Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan percaya dirinya. "Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih terdapat kesalahan di sana-sini."

Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung perilaku-perilaku positif.


4. KELELUASAAN BERMAIN
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. "Lihat, tuh. Kayaknya asyik banget, ya, main bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main sana." Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa percaya dirinya.

Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.

Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.


5. PERKENALKAN LINGKUNGAN LUAR RUMAH
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.

Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
AJARAN NABI SAW

Mendidik dengan Syariah

Tuesday, June 8th, 2010 | Posted in Opini | No Comments » Pendidikan merupakan dasar dari pembentukan karakter seorang individu. Islam begitu memperhatikan masalah pendidikan, bahkan sejak dari tahap pernikahan yang akan dijalani oleh sepasang calon pasangan suami-istri. Islam menekankan bahwa pernikahan adalah jalan untuk meneruskan keturunan. Ada kewajiban untuk mendidik keturunan sehingga menjadi generasi penerus unggulan. Seorang ibu memegang peran penting dalam mendidik anak karena dia [...]
Baca lebih lanjut »

Mubalighah Pejuang Khilafah

Tuesday, June 8th, 2010 | Posted in Fokus | 1 Comment » Hingga hari ini Indonesia masih diliputi kehidupan yang suram; hidup dalam sistem Kapitalisme sekular yang jauh dari cahaya Islam; diselimuti krisis multidimensi tanpa ada ketuntasan solusi. Kemurnian akidah Islam terancam dengan fenomena aliran sesat yang merajalela dan aktivitas penistaan agama tidak ditindak tegas karena alasan HAM. Perempuan yang seharusnya menjadi pilar baik-buruknya negara telah ditempatkan [...]
Baca lebih lanjut »

Mubalighah: Penerang dan Penunjuk Arah Perjuangan
Para mubalighah adalah para ibu tangguh yang mendidik anak-anaknya, para istri shalihah yang taat kepada suaminya dan para pengatur rumah tangga yang menata tempat tinggalnya. Mereka juga bergerak di tengah-tengah umat bersama-sama dengan para ulama dari kalangan pria. Mereka berada di garda terdepan dalam membimbing umat dan menunjukkan arah perjuangannya. Mereka laksana bintang-gemintang yang menjadi penerang dan penunjuk arah.

Membincangkan Kembali Sitem Pendidikan Islam

Sunday, May 2nd, 2010 | Posted in Nisa' | 4 Comments » Bangsa ini memiliki kualitas SDM yang rendah. Hal ini terlihat dari data mahasiswa baru (tahun 2008) di salah satu perguruan tinggi ‘terbaik’ di Indonesia, diperoleh gambaran sbb: Tingkat Kecerdasan (IQ > 110) 79% Kemandirian 13% Usaha 67% Percaya Diri 11% Kepekaan 19% Kepemimpinan 4% Dari data ini terlihat jelas bahwa mereka memiliki IQ yang tinggi, namun [...]
Baca lebih lanjut »

Menyayangi Istri

Sunday, May 2nd, 2010 | Posted in Ibrah | No Comments » Usai menunaikan shalat magrib berjamaah dan berzikir di mushala samping rumahnya, ustad muda yang aktivis itu tampak merenung cukup lama. Ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di rumahnya karena ’ditinggal’ istrinya yang hari itu harus mengikuti kegiatan dakwah dari pagi sampai sore. Sebagai ustad, tentu ia bukannya tidak paham betapa beratnya beban seorang istri [...]
Baca lebih lanjut »

Kaum wanita pernah datang menghadap Rasulullah saw. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah amal perbuatan untuk kami yang dapat menyamai amal para mujahidin di jalan Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Siapa saja di antara kalian berdiam diri di rumahnya (melayani suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengurus rumahtangganya), sesungguh-nya ia telah menyamai amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR al-Bazzar). 


Ibu…., dalam Genggamanmu Pendidikan Generasi

Saturday, April 24th, 2010 | Posted in Muslimah | 7 Comments » Oleh: Dra. Rahma Qomariyah, M.Pd.I ( Nara Sumber Radio pada Rubrik Ketahanan Keluarga Muslim, Program Radio Cermin Wanita Sholihah, MMC- Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)Agar tercapai tujuan pendidikan keluarga, maka seluruh komponen pendidikan dalam keluarga harus menjalankan fungsinya secara  baik. Yang termasuk komponen pendidikan keluarga adalah, segala sesuatu yang ada disekitar anak, dan mampu mempengaruhi tingkah lakunya. Karenanya lingkungan anak harus sesuai dengan Islam, misalnya: hiasan-hiasan dinding yang sesuai dengan ajaran Islam; tayangan televisi, internet yang bisa diakses anak; Buku bacaan yang mendidik.

Seorang ibu harus bertaqwa karena tugasnya sebagai guru adalah mendidik anak agar tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan Islam, bertaqwa kepada Allah, berarti semakin dekat dengan Allah. Abdurrahman Amaroh dalam bukunya mengatakan:“Sungguh strategi pendidikan Islam telah berhasil mengarahkan manusia kepada Tuhannya   dan mengembalikan mereka kepada Penciptanya. Sehingga masing percaya sesungguhnya Allah itu dekat”[3].

Dengan demikian dalam mendidik anak, ingat pada tujuan pendidikan keluarga yang telah kita tetapkan: kapan tujuan sudah tercapai targetnya, tahap demi tahap tujuan yang telah kita tetapkan, dan telah kita capai. Semuanya untuk menggapai tujuan yang telah kita tetapkan menjadi mufassir misalnya.

Seringkali kalau kita menyebut kurikulum pendidikan, kita beranggapan bahwa itu untuk pendidikan formal saja, padahal pendidikan keluargapun membutuhkan kurikulum. Kurikulum Pendidikan adalah suatu rangkaian mata pelajaran berikut metode penyampaiannya yang menjadi patokan penyampaian ilmu pengetahuan (materi pelajaran). Karenanya jika kita menyimpang dari kurikulum yang telah ditetapkan, maka tidak akan mampu mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian dalam mendidik anak, ingat pada kurikulum pendidikan keluarga yang telah kita tetapkan: kapan harus dilakukan dan kapan harus mencapai targetnya. Ingat, kita tentu sudah menargetkan agar anak kita menjadi pejuang dan SDM Khilafah. Tentu kita harus memprosesnya sesuai dengan kurikulum yang telah kita persiapkan.



7. Ikhlash.
Ibu harus ikhlash dalam melaksanakan tugasnya  karena sesungguhnya Allah memerintahkan hambahnya untuk beribadah dengan ikhlash, termasuk mendidik anak

8. Menyayangi anak dan penyabar.
Ibu mempunyai tugas untuk mendidik anak agar  memperoleh ilmu pengetahuan dan mengubah tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan materi pelajarannya dan tentu saja harus sesuai dengan Islam. Anak adalah manusia bukan benda. Kalau benda diberi perlakuan sama, maka ia berubah secara serentak, tapi berbeda dengan manusia. Karenanya saat manusia diberi perlakuan tertentu tidak serta merta semuanya berubah, ada satu-dua yang ‘ngadat’. Keadaan seperti ini tidak akan bisa diatasi, jika ibu bukan seorang yang menyayangi anak dan sabar[11]

Peranan dan Tanggung Jawab Muballighah dalam Menegakkan Khilafah

Untuk itu, lanjut Dedeh, mubalighah harus mengambil peran politik, yakni membina umat dan menjaga kejernihan pemikirannya, membangun kesadaran politik umat (wa’yu siyasi). Yaitu kesadaran umat tentang bagaimana mereka memelihara urusannya dengan syariat Islam. Sehingga akan muncul para muslimah yang pandai mengurus diri, keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Ia juga pandai mendidik anak, melahirkan generasi Islami, dan berjuang di tengah masyarakat

Ringkasan Orasi Pembicara Muktamar Muballighoh

Kondisi itu diperparah dengan munculnya gagasan Gender equality, yakni upaya menyetarakan diskriminasi dari beban-beban  yang menghambat kemandirian, sekalipun dengan cara menghilangkan nilai-nilai budaya dan agama. Beban itu antara lain  perannya sebagai ibu yakni : hamil, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga. Lalu berbondong-bondonglah kaum perempuan meninggalkan kodratnya. Mereka berlomba-lomba mensejajarkan diri dengan laki-laki. Namun  begitu mereka memasuki ranah publik, eksploitasi habis-habisan atas diri merekalah yang terjadi. Kaum perempuan menjadi obyek  eksploitasi  sistem kapitalisme yang memandang materi adalah segalanya.

MENYATUKAN LANGKAH MENYONSONG TEGAKNYA KHILAFAH


Para mubalighah adalah para ibu tangguh yang mendidik anak-anaknya, para istri shalihah yang taat kepada suaminya dan para pengatur rumah tangga yang menata tempat tinggalnya. Mereka juga bergerak di tengah umat (kaum wanita) seperti halnya para ulama dari kalangan pria. Mereka berada di garda terdepan dalam membina umat (kaum wanita dan generasi di rumahnya) dalam memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah. Mereka, karena keilmuan dan keulamannya, laksana bintang-gemintang yang menjadi penerang dan penunjuk arah.

Membangun kesadaran politik umat, yaitu kesadaran tentang bagaimana mereka memelihara urusannya dengan syariah Islam. Dari sini akan muncul para Muslimah yang pandai mengurus diri, keluarga dan masyarakat (kaum wanita) di sekitarnya; pandai mendidik anak, melahirkan generasi islami, dan berjuang di tengah masyarakat.

6. HINDARI INTERVENSI
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.

Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.

Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.irfanhasuki

Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang disamping kesabaran.


7. JANGAN MEMOJOKKAN, ARAHKAN
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini (sambil mencontohkan) lalu masukkan ke mulut."

Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.

Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.


8. JANGAN TERLALU MENUNTUT
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi anak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda