Jumat, 01 Juli 2011

Umat Islam Saat Ini Hidup Tanpa Pemimpin Islam - Kehidupan Tanpa Amirul Mukminin

 Umat Islam Saat Ini Hidup Tanpa Pemimpin Islam - Kehidupan Tanpa Amirul Mukminin




Bab: 8
Solusinya

Pendahuluan


Dalam segmen terakhir, usaha-usaha telah dibuat untuk memahami solusi-solusi untuk Umat Islam dalam petualangannya untuk kebangkitan kembali, dalam usahanya untuk melanjutkan kekuasaan dunia, dalam kewajibannya untuk memerintah dunia berdasarkan perintah Allah Swt., dalam kemungkinan tak terhindarkannya dari menjadi satu-satunya penggerak dan penggoyang dunia ini dengan mendirikan tata dunia baru keadilan, akuntabilitas, dan kemakmuran.

Memanglah solusinya harus tidak datang dari pikiran manusia manapun; melainkan solusinya harus ditunjukkan oleh Allah Swt., Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Kuat. Allah Swt. menyatakan dalam al-Qur’an yang mengagumkan,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Terjemah Makna Qur’an Surat Al-Ahzab: 21]
Oleh karena itu, kehidupan Nabi Saw. mengklarifikasi cara untuk diikuti untuk mengembalikan perisai Umat Islam, Negara Khilafah Islam, kembali ke kehidupan Umat lagi. Pastilah mengikuti metodologi Baginda Saw. adalah satu-satunya jaminan bagi kesuksesan untuk Umat. Ini karena Beliau Saw. telah datang ke dunia ini dan mendirikan Negara Khilafah Islam di Madinah. Di sana tidak ada tempat untuk trial and error, juga tidak ada tempat untuk bergeser dari metode Nabi Saw. Itulah mengapa Beliau Saw. adalah Rasulullah!

Metodologi itu mengharuskan kepatuhan pada proses 3 langkah yang diikuti oleh Nabi Saw. dalam 13 tahun perjuangan mulia Beliau Saw.

1.       Mendirikan partai politik ideologis yang menyerukan kembalinya Islam yaitu Negara Khilafah Islam sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’an,

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Terjemah Makna Qur’an Surat Ali Imran: 104]
2.       Melakukan perjuangan intelektual dan politik di atas dasar ideologi Islam untuk membeberkan kesalahan sistem kufur dan konsep-konsepnya seperti hukum buatan manusia yaitu sekularisme, kebebasan, pasar bebas, dan demokrasi, dll. Dan juga untuk menciptakan kesadaran, dan melibatkan Umat Islam dalam bekerja untuk Persatuan, Khilafah, dan Syari’ah sebagai solusi untuk Umat dan untuk seluruh umat manusia. Sungguh kronologi ayat-ayat yang diwahyukan dari wahyu pertama hingga terakhir adalah testimoni yang jelas untuk itu. Dan juga untuk membeberkan dan berjuang melawan berbagai rencana dan agresi para imperialis melawan Islam dan Kaum Muslimin. Selain itu untuk menuntut, membeberkan, dan melakukan perjuangan berani melawan para penguasa antek yang telah mengabaikan al-Qur’an dan Sunnah dalam pemerintahan; yang menyangkal hak-hak Umat dan menindasnya; dan melayani para musuh Islam dan Kaum Muslimin yaitu para kafir Yahudi dan musyrik.


3.       Mencari dukungan material/ fisik dari para ahli kekuatan, yaitu militer dalam berbagai bagian dunia Islam untuk mencabut sistem kolonial dan para penguasa budak untuk mendirikan kembali Negara Khilafah Islam. Sungguh ‘baiat Aqabah’ dan dukungan Sa’ad bin Muadz r.a. adalah bukti jelas untuk itu.

Singkatnya tujuan 2 tahap pertama adalah untuk memastikan berlangsungnya proses politik praktikal untuk membudayai Umat dengan Islam, untuk berbagi perhatian-perhatian Umat seantero globe melalui cara-cara dan gaya-gaya politik, untuk membeberkan agenda para kolonialis di dunia Islam dan untuk membawa Umat Islam ke tingkat di mana mereka akan melihat kolonialis sebagai kolonialis, bukan sebagai teman; dan melihat Khilafah Islam baik dari perspektif akidah maupun intelektual sebagai satu-satunya pilihan melawan penjajahan Barat, korupsi dari sistem sekular demokratis dan diktatorial yang ditimpakan atas Umat.

Mengenai tahap ke-3, adalah atas para ahli kekuatan, militer berpengaruh dalam Umat Islam untuk mendukung seruan pada Khilafah Islam dan mencerabut para boneka kolonial, sistem kolonial, dan garis-garis batas pecah belah buatan kolonial di antara Umat dan menggantinya dengan Negara Khilafah Islam.

Kehidupan tanpa Amir ul-Mukminin


Sungguh penghancuran Khilafah Islam di tangan para kolonialis di 1924 adalah benar-benar luka yang mengerikan. Umat Islam tidak bisa percaya itu. Tidak pernah Umat membayangkan bahwa otoritas sedemikian luas Khilafah suatu hari akan berakhir. Umat sangatlah terkejut hingga dia bahkan meminta seorang pengkhianat dan konspirator Mustafa Kamal untuk menyerobot gelar Khilafah. Umat sangatlah terkejut melihat tidak ada Khalifah untuk Umat!

Memanglah ini menandai akhir 1.300 tahun perjalanan Negara Khilafah Islam yang didirikan oleh tangan Nabi Saw. sendiri di Madinah tahun 623M melalui perjuangan mulia Beliau Saw. dengan pertolongan Allah Swt. Ini menandai akhir dari raksasa pemimpin bangsa, Negara Khilafah Islam membentang dari Spanyol ke Indonesia dan Timur Tengah ke Asia Tengah. Satu bangsa pemimpin yang memimpin dunia dalam sains, teknologi, obat-obatan, kesehatan, bisnis, pemerintahan akuntabel, keadilan, perdamaian dan kemakmuran.

Kehidupan apa yang ada setelah penghancuran Khilafah bagi Umat Islam? itu dikarakterisasi dengan sejarah kemerosotan, pemecahan, penjajahan, penindasan, penghinaan, kekacauan politik, dan penumpahan darah. Selain itu, pendirian anak dimanja Barat, Israel di 1948 telah menambah garam ke luka ini setiap hari. Pembunuhan dan pemenjaraan, penjajahan dan penindasan, pelanggaran kehormatan Umat telah menjadi tata hari ini. Setelahnya, jejak Palestina masih berlanjut bagi Umat Islam dengan tanah-tanah baru menambah panjang daftar seperti Kashmir, Gujarat, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Algeria, Azerbaijan, Caucasus, Grozny, Turkistan, Bukhara, Samarkhand, Xinjiang, Somalia, Iraq, Sudan, Afghanistan dan Pakistan dll karena perang atas Umat Islam oleh para kekuatan Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Rusia dll. Selain itu, dengan nama kebebasan dan kemerdekaan persatuan Umat Islam telah dipecah berkeping-keping menjadi negara-negara satelit yang dikendalikan oleh Washington, London, dan Paris. Negara-negara pseudo-independen itu telah ditanami dengan kepemimpinan yang mereka adalah pengikut Barat juga.


Situasi di waktu itu diringkas oleh David Fromkin, Profesor, dan ahli dalam Sejarah Ekonomi di University of Chicago “sejumlah massal kekayaan Khilafah Utsmani tua saat ini diklaim oleh para pemenang. Tapi orang harus ingat bahwa Khilafah Islamiyah telah berusaha selama berabad-abad untuk menaklukkan Eropa Kristen dan para broker kekuatan yang menentukan nasib orang-orang terkalahkan itu secara alami bertekad bahwa negara-negara itu selamanya tidak boleh mampu merencanakan dan mengancam berbagai kepentingan Barat lagi. Dengan berabad pengalaman merkantilis, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara kecil, tak stabil yang para penguasanya dikendalikan dan mereka dimaksudkan tidak pernah lagi menjadi ancaman bagi Barat. Kekuatan-kekuatan eksternal itu lalu membuat kontrak dengan para bonekanya untuk membeli berbagai sumberdaya Arab dengan murah, membuat elit feodal sangat kaya sementara meninggalkan sebagian besar warga dalam kemiskinan.”

 Umat Islam Saat Ini Hidup Tanpa Pemimpin Islam - Kehidupan Tanpa Amirul Mukminin
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda