Jumat, 01 Juli 2011

Superioritas Agama Islam - Keunggulan Akidah Ideologi Islam Dalam hal Penjagaan Pelestarian

Superioritas Agama Islam - Keunggulan Akidah Ideologi Islam Dalam hal Penjagaan Pelestarian




Superioritas dalam Hal Penjagaan


Dengan kepastian, sistem ideologi Islam adalah unik dalam memelihara ideologi itu dalam masyarakat. Dan karena keunikan sistem penjagaannya, Islam terus menjadi kekuatan sosial dan politik dominan dalam politik dunia bahkan setelah kehancuran Negara Khilafah Islam yang menerapkan, memelihara dan menyebarluaskan Islam secara internal dan universal. Selain itu, sejarah dunia akhir-akhir ini adalah sejarah ‘Perang terhadap Islam’, meski fakta bahwa Umat Islam tidak punya otoritas apapun untuk mewakili mereka dan untuk mengurus mereka.

Superioritas ideologi Islam adalah karena sudut pandang unik dan satu-satunya yang benar tentang masyarakat. Sebaliknya, kegagalan kapitalisme dan komunisme untuk memahami masyarakat dan sifat dasarnya adalah jelas. Dalam komunisme masyarakat telah diprioritaskan atas individu sedangkan dalam kapitalisme individu telah diprioritaskan atas masyarakat seolah masyarakat dan individu adalah berkebalikan dan kekuatan yang berlawanan. Ini adalah pemahaman yang keliru tentang masyarakat. Ideologi Islam punya satu-satunya pemahaman yang benar, di mana hubungan antara individu dan masyarakat terseimbangkan secara harmonis dan bekerja seperti jeruji dalam roda, di mana roda tidak bisa melaju jika jerujinya tidak pas.

Islam memandang masyarakat sebagai kombinasi individu-individu, perasaan dan pemikiran bersama, dan sistem (aturan-aturan) bersama. Sistem ini dibangun atas perasaan dan pemikiran umum para individu. Jadi implementasi sistem itu atas individu-individu dalam masyarakat menciptakan harmoni bukannya ketidaksesuaian. Sebagai contoh individu-individu dalam masyarakat Islam percaya dalam ‘La ilaha il’lal-lahu Muhammadur Rasul Allah Saw.’. Karena keyakinannya pemikiran dan perasaan individu didasarkan pada pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah. Jadi, ketika negara menerapkan sistem Islam, rakyat menemukan bahwa sistem ini bekerja sebagai pelindung pemikiran dan perasaan mereka. Maka orang menjadi jauh lebih beriman dan loyal pada sistem itu dan menyediakan kepatuhan pada aturan-aturannya.

Oleh karena itu, berfungsinya sistem itu bekerja secara otomatis tanpa ketakutan akan polisi, tapi takut akan Allah Swt. (takwa). Ini dicontohkan dengan fakta bahwa Kaum Muslimin dalam masyarakat mereka ‘tidak minum air secara menyembunyikan diri mereka sendiri di bulan Ramadhan’ walaupun tidak ada polisi atau orang lain yang mencegah seorang Muslim dari melakukannya. Oleh karena itu, adalah rasa takut kepada Allah Swt. yaitu Taqwa yang membantunya untuk tidak melanggar hukum, meski fakta bahwa saat ini kita tidak punya Negara Islam untuk menerapkan sistem-sistemnya atas Umat.

oleh karena itu, Negara Khilafah Islam yang menerapkan ideologi Islam bisa secara alami menjadi sukses dalam menerapkan aturan-aturannya di antara para warga negara dan hubungan antara individu dan negara dalam masyarakat menjadi lebih kuat dari hari ke hari. Lagi ambil contoh yang lain. Dunia Islam hari ini tidak punya Khilafah untuk mengimplementasi Islam. Meski ada kenyataan ini Kaum Muslimin membayar zakat, dengan menghitung jumlahnya sendiri karena ketulusan yang datang dari pemahaman mereka atas keyakinan dalam ‘La ilaha il’lal-lahu Muhammadur RasulAllah Saw.’ Mereka tidak menyembunyikan kekayaan mereka dan membuat pernyataan salah mengenai status kekayaan mereka dan oleh karenanya membayar jumlah Zakat yang benar, meski fakta bahwa hari ini Khilafah tidak hadir untuk mengambil zakat dan menghitungnya. Namun, Muslim yang sama tidak membayar pajak pada negara sekular dengan benar. Walaupun terdapat komisi pajak, hukum dan prosedur untuk menghukum orang atas ketidak-membayarannya. Ini ‘hanya’ karena rakyat paham bahwa sistem perpajakan ini tidaklah Islami karena Rasul Saw. berkata, ‘Barangsiapa menarik pajak tidak akan masuk Surga’. Di sini sistem itu tidak sesuai dengan pemikiran, keyakinan dan emosi individu-individu dan oleh karenanya tidak mencerminkan pikiran umum rakyat. Jadi rakyat memandang sistem itu represif dan mereka tidak menunjukkan loyalitas kepada sistemnya negara itu, mengakibatkan malfungsi negara.

Selain itu ketika kaum Muslimin menemukan para penguasa mereka sekarang membuat hukum sendiri dengan doktrin tak-bertuhan ‘sekularisme’, mereka tidak melihat kecuali para penguasa yang menyangkal hukum Allah Swt. Umat Islam melihat penguasa mereka membuat hukum bertentangan dengan aturan-aturan Allah (membolehkan riba, ikhtilat – campur baur pria & wanita, melarang hijab, melarang politik berdasar Quran dan Sunnah, menjual harta sumberdaya dan kehormatan milik Umat kepada kaum Kafir, melindungi kepentingan mereka sendiri dan para tuan Barat mereka dsb.). Kaum Muslimin melihat para penguasa membuat hukum dengan mengambil posisi sebagai ‘Al-Hakim’. Memanglah Umat Islam dengan cepat menyadari kejahatan dan pengkhianatan para penguasa mereka dan memahami bagaimana itu semua sungguh berkontradiksi dengan keyakinan mereka dalam ‘La ilaha il’lal-lahu Muhammadur RasulAllah Saw.’ Oleh karena itu, mereka mengutuk para penguasa mereka; menghindari para penguasa negara kepanpun mereka menemukan kesempatan sekecil apapun untuk menghindari mereka. Jadi para penguasa sekular itu hanya berusaha untuk tetap mencengkeram masyarakat dengan menekan rakyat, akhirnya menjadi negara polisi dan mempropagandakan aturan-aturan bahkan hingga ‘penyadapan telepon’ atau ‘memasang kamera rahasia’ di tempat-tempat tinggal orang umum!


Oleh karenanya adalah cukup untuk menyimpulkan bahwa, meski fakta bahwa Negara Khilafah Islam telah diabolisi oleh kaum Kufar di 1924 dengan seruan nasionalisme dan pecah belah dunia Islam, Umat Islam cinta mengikuti Islam, aturan-aturannya dan ingin melihat kembalinya sistem Islam di bawah ‘Negara Khilafah Islam’, karena hanya Khilafah Islamiyah dengan menerapkan aturan Allah Swt. bisa mengharmonisasi pikiran, perasaan dan keyakinan Umat dalam ‘La ilaha il’lal-lahu Muhammadur RasulAllah Saw.’ Jadi kekuatan ideologi Negara Khilafah Islam adalah superior dan kekuatannya ada dalam kekuatan individu-individu dalam masyarakat dan kemampuan sistemnya untuk menerapkan sesuatu yang bersesuai dengan pikiran dan emosi Umat. Selain itu sistem Islam itu sendiri memelihara, melindungi pikiran dan perasaan rakyat. Jadi Umat Islam menyadari negara Islam sebagai mutually inclusive (harmonis dengan rakyat) bukannya mutually exclusive (bertentangan dengan rakyat).

Memanglah ketika dunia Barat dengan kapitalisme telah mengatur dunia ini, seluruh dunia telah melupakan apa yang dikatakan Samuel P. huntington, “Barat memenangi dunia tidak dengan superioritas ide-idenya atau agamanya tapi dengan superioritasnya dalam menerapkan kekerasan terorganisasi. Orang-orang Barat lupa terhadap fakta ini, orang-orang non-Barat tidak pernah.”


 Superioritas Agama Islam - Keunggulan Akidah Ideologi Islam Dalam hal Penjagaan Pelestarian
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda